menulis (novel) etnografi


Tema “Menulis Novel Etnografi” yang kami angkat sebagai topik obrolan sore Sembari Minum Kopi (SMK), sebenarnya cukup segmented. Tapi ternyata yang datang di SMK kali ini cukup banyak. Dari 50 target peserta, rupanya yang mengisi di buku tamu sudah lebih dari 140 orang. Nggak nyangka deh…

Padahal, Etnografi, konsep yang dikembangkan Antropologi untuk mendeskripsikan masyarakat dan kebudayaannya itu memang masih belum dikenal luas. Sementara itu di kalangan antropolog sendiri terjadi perdebatan yang panjang mengenai karya etnografi itu sendiri. Mereka memperdebatkan apakah karya etnografi itu merupakan fakta atau fiksi. Penganut antropologi positivistik meyakini bahwa karya etnografi itu merupakan fakta, alias beda dengan karya fiksi. Namun para antropolog postmodernis bahwa karya etnografi tak ubahnya sebuah novel, hasil imaginasi seorang antropolog tentang masyarakat yang ditelitinya.

Ah, sudahlah biarkan para antropolog di kampus yang memperdebatkannya. Forum SMK ini sebenarnya nggak punya niat muluk-muluk. Sekedar ngobrol santai saja, nggak usah terlalu serius. Sokur-sokur ada yang terinspirasi. Kalaupun tidak, ya kali lain ngobrol yang lebih fokus lagi.

Meski begitu, perdebatan antara fakta dan fiksi itu sempat pula menyita sebagian waktu dalam forum obrolan SMK. Sehingga obrolan atau sharing tentang proses kreatif dan Putu Fajar ArcanaKris Budiman dalam menulis sastra yang kental dengan warna lokal jadi kurang tergali. Lebih tepatnya, nggak kebagian waktu cukup untuk ngobrolin hal ini, karena sudah keburu maghrib.

Dari porsi waktu yang sedikit itu, ada beberapa catatan yang dapat dikutip untuk mengisnpirasi kita semua dalam penulisan kreatif:

  1. Imaginasi itu penting, kata Kris Budiman. Banyak penulis takut untuk berimajinasi, sehingga tulisannya menjadi kering seperti laporan yang tidak menarik untuk dibaca.
  2. Riset itu wajib. Meskipun imaginatif, tetapi jika tidak disertai dengan studi, karya sastra juga tidak akan menarik.
  3. Baca buku sastra sebanyak-banyaknya, menurut Putu Fajar Arcana merupakan cara termudah untuk mengasah kreatifitas. Sayangnya, tidak semua orang mau membaca sastra.
  4. Baca kamus untuk menemukan diksi juga disarankan Putu. Dengan diksi dan kosa kata yang kaya, tulisan akan lebih enak untuk dibaca.

Masih belum terinspirasi untuk menulis? Hhmm…mungkin kita perlu bikin workshop “Penulisan novel Etnografi” kali ya. Ada yang berminat?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s