Kesusastraan: Etnografi Kritik terhadap Kebudayaan

Liputan KOMPAS untuk Sembari Minum Kopi “Menulis Novel Etnografi” Senin, 12 Mei 2008 | 10:33 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Dengan menuliskan kebudayaan lain, tulisan etnografi diharapkan dapat menjadi kritik terhadap kebudayaan. Untuk itu, diperlukan riset yang mendalam agar tulisan tersebut bisa bersikap kritis. Demikian disampaikan antropolog sekaligus pengajar program studi Pascasarjana Kajian Budaya dan Media Kris Budiman dalam diskusi bertema Menulis Novel Etnografi yang diadakan Komunitas Regol, di Yogyakarta, Sabtu (10/5).

Penulis tidak bisa taken for granted (menerima begitu saja fakta yang diterima) dalam menulis novel etnografi, perlu melakukan riset dan proses familiarisasi, ujar Kris. Kris menuturkan, perlu kemampuan sebagai seorang etnografer dalam menuliskan sebuah karya etnografi. Karya etnografi berbicara mengenai metode dan hasil kerja yang dilakukan seorang antropolog, tuturnya. Dalam menulis novel etnografi, lanjut Kris, pengarang juga perlu menjaga jarak agar tidak terjadi stereotip terhadap obyek yang ditulis. Untuk itu, penulis mesti membebaskan diri dari etnosentrisme atau pandangan yang berpangkal pada kebudayaan sendiri sehingga dapat meremehkan kebudayaan lainnya.

Jika memberikan jarak terlalu jauh terhadap obyek yang ditulis, akan memberikan kesan yang buruk-buruk saja terhadap pembaca. Sedangkan jarak yang terlalu dekat, juga akan memberikan kesan sebaliknya, katanya. Menurut Kris, tulisan etnografi juga tidak mesti harus bercerita mengenai suatu suku bangsa, melainkan lebih mengisahkan kepada kelompok lain (the other). Pandangan bahwa etnografi mengisahkan suatu suku bangsa ini perlu direvisi, tuturnya.

Agar sebuah novel etnografi enak dibaca, Kris menambahkan, perlu imajinasi yang kuat dari sang pengarang. Jangan hanya berkutat dalam pembedaan antara fakta dan fiksi. Yang terpenting, perlu karakterisasi dan kecermatan penyusunan plot sehingga pesan novel tersebut bisa tersampaikan, tuturnya. Sastrawan dan jurnalis Putu Fajar Arcana mengatakan imajinasi sangat penting untuk dimiliki seorang pengarang dalam membuat suatu karya. Tanpa imajinasi, tulisan hanya jadi paparan fakta yang kering, ujarnya. Putu menuturkan, untuk memperkuat daya imajinasinya, seorang penulis memerlukan banyak referensi dengan membaca berbagai karya sastra. Selain itu, Putu juga mengingatkan mengenai pentingnya membaca kamus untuk memperkaya diksi sebuah tulisan. Penulis memerlukan kemampuan dalam menyusun sebuah gramatika bahasa dengan diksi yang penuh imajinasi, ucapnya. (A06)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s