mari menuliskan kisah perjalanan

mas salman faridi (ceo bentang pustaka), matatita (travel writer :p), dan dita (moderator yang juga penyiar radio). sayang mas wahyu hidayat (reader’s digest indonesia) tidak bisa hadir dikarenakan pesawat BATAL terbang (mandalair) huh…!
mas wahyu baru tiba di jogja jam 18.30 dengan pesawat lain (GA)

ini dia aksi panggung para narasumber.
“oleh-oleh yang paling berharga bagi seorang traveller adalah
TULISAN dan FOTO” kata matatita. ayo menulis…!

begitu tiba sesi tanya jawab…banyak banget yang mengangkat tangan..
antusias banget…!

habis dengerin ‘hasutan’ matatita untuk menulis kisah perjalanan…
beli bukunya dulu untuk mempelajari style penulisan..
setelah itu minta tandatangan dan travel quotate dari penulisnya..
Advertisements

traveling is experiencing different cultures


Selasa, 11 Agustus 2009, 23:15 WIB

Indonesia Lemah Dalam Packaging Daya Tarik Wisata

Iwan Pribadi – GudegNet

Dalam hal menjual daya tarik wisata, Indonesia masih memiliki kelemahan dalam hal packaging, sehingga sesungguhnya apa yang dimiliki Indonesia banyak yang jauh lebih menarik apabila, misalnya, dibandingkan dengan Malay Heritage Center di Singapura yang landmark-nya hanya sebuah Rumah Minangkabau saja.

Ini yang mendorong penerbit di Indonesia untuk menerbitkan dan membuat tulisan-tulisan yang masuk ke dalam kategori traveling, yang baru muncul sekitar lima tahun yang lalu. Semuanya itu didasari pemikiran bahwa apabila digarap secara serius, pariwisata di Indonesia sesungguhnya sangat menjanjikan. Demikian diungkapkan oleh Salman Farid kepada GudegNet Sabtu lalu (8/8) di FoodFezt Yogyakarta.

Pria yang menjabat sebagai CEO Bentang Pustaka ini menambahkan, kemudahan yang ada pada saat ini seperti misalnya teknologi blog, juga memiliki peranan dalam semakin mempopulerkan tulisan-tulisan traveling di masyarakat.

Dengan adanya tulisan-tulisan seperti itu, apalagi yang telah berhasil diterbitkan sebagi buku, diharapkan dapat semakin membuka mata masyarakat luas umumnya dan kaum muda khususnya bahwa banyak hal yang dapat diperoleh dan dipetik selama mengadakan perjalanan atau traveling, jadi tidak melulu bersenang-senang belaka.

Pendapat tersebut dibenarkan oleh Matatita, yang belum lama ini meluncurkan buku traveling pertamanya yang berjudul Tales From The Road. Menurutnya, hal yang menariknya selama perjalanan bukanlah pada pemandangan atau landscape suatu lokasi tertentu yang sedang dikunjungi, akan tetapi yang menarik perhatiannya adalah sisi sosial budaya masyarakat di tempat tersebut yang menarik untuk diamati dan dipahami, yang kelak sangat bermanfaat untuk pengayaan wawasan dan pemahaman seseorang atas budayanya sendiri.

Bagi Matatita sendiri, buku yang baru saja diterbitkannya tersebut diharapkan dapat menjadi pemicu bagi siapapun yang memiliki kesempatan dan waktu untuk jalan-jalan nampin tidak pernah dituangkan dalam bentuk tulisan lain, selain dalam bentuk laporan perjalanan kerja saja.

Jadi singkatnya, menurut perempuan yang juga pimpinan Regolmedia ini, traveling baginya adalah bukan melulu melihat pemandangan-pemandangan yang indah, akan tetapi lebih dimaknai sebagai experiencing diferent culture agar dapat menjadi sarana refleksi bagi diri sendiri, yang kemudian dapat menjadi sebuah bahan tulisan agar dapat dibaca dan dapat dijadikan sarana refleksi oleh lebih banyak orang lagi.

foto: dokumen REGOL

liputan GudegNet untuk Travel Writing Weekend Forum

Selasa, 11 Agustus 2009, 23:28 WIB

Menembus Penerbit Buku dengan Menuliskan Kisah Perjalanan

Iwan Pribadi – GudegNet

Menuliskan Kisah PerjalananSebenarnya menembus penerbit buku untuk sehingga dapat menerbitkan karya seseorang, tidak sesukar yang selama ini dibayangkan.

Karena sesungguhnya para penerbit saat ini sedang agresif dalam mencari penulis-penulis untuk diterbitkan karyanya menjadi sebuah buku.

Demikian ungkap Salman Farid ketika mengawali acara Sembari Minum Kopi yang kali ini mengangkat tema Menuliskan Kisah Perjalanan: Kiat Menembus Media dan Penerbit.

Bahkan, CEO Bentang Pustaka ini menambahkan, sejak beberapa tahun belakangan para penerbit juga mencari tulisan-tulisan yang dinilai layak untuk diterbitkan dan marketable di Internet dengan mengunjungi blog-blog yang banyak tersebar di sana.

Beberapa yang tulisan di blog yang berhasil diangkat menjadi tulisan antara lain “The Naked Traveler (Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia)” karya Trinity, dan yang baru saja terbit adalah “Tales From The Road” karya Matatita.

MatatitaMatatita yang juga hadir kesempatan ini turut membagikan tips dan pengalamannya seputar menerbitkan kisah perjalanan yang semula berada di blog menjadi sebuah buku.

Menurutnya, jika ingin lebih mudah ditemukan oleh penerbit, maka sebaiknya membuat blog yang segmented dan membicarakan satu hal saja yang khusus dan spesifik, misalnya tentang perjalanan saja, tentang kuliner saja, dan lain sebagainya.

Khusus untuk menuliskan kisah perjalanan, Matatita memberikan masukan agar jangan terpesona dengan keindahan tempat yang sedang kita datangi, sebab jika itu terjadi maka akan melahirkan tulisan yang datar, biasa-biasa saja, dan sudah banyak dibahas oleh orang lain yang mengunjungi tempat itu.

Untuk itu akan lebih baik jika tulisan perjalanan tersebut memerhatikan hal-hal yang kecil seperti budaya dan keseharian masyarakat di tempat tersebut, dan berusaha dekat dan melebur dengan penduduk setempat dengan cara menghormati budaya mereka. Dengan demikian niscaya akan ditemukan hal-hal yang khas dan menarik yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.

Pada akhirnya, Matatita berpesan bahwa oleh-oleh atau produk yang sebenarnya dari seorang traveler itu adalah berupa foto-foto dan/atau tulisan. Untuk itu ia berpesan kepada siapapun yang memiliki hobi jalan-jalan untuk jangan ragu-ragu untuk menuliskan kisah perjalanannya. Siapa tahu ada penerbit yang melirik dan kemudian tertarik untuk menerbitkan.