ngopi bareng di bandung | 15 jan 2012

Advertisements

travel writing forum with agustinus wibowo


Di tengah maraknya penerbitan buku-buku traveling mengunjungi ‘negeri-negeri indah’ dengan budget terbatas, yang dilengkapi foto-foto narsis sekedar untuk memamerkan pada pembaca bahwa I’ve been there, dan para penulisnya juga dengan bangga melabeli dirinya sebagai backpacker, terselip dua buku perjalanan menjelajah negeri-negeri di Asia Tengah: Selimut Debu (2010) dan Garis Batas (2011). Kedua buku perjalanan yang ditulis Agustinus Wibowo, pemuda pemberani asal Lumajang itu, tidak berkisah tentang keindahan seperti yang jamak kita baca dalam tulisan perjalanan, apalagi review mengenai akomodasi irit dan itinerary berikut harga tiket pesawatnya. Tak heran jika di sejumlah toko buku, Selimut Debu dan Garis Batas tidak dipajang bersamaan dalam rak buku traveling, namun berada di antara buku bacaan umum dan sastra.

Lewat Selimut Debu dan Garis Batas, Agustinus Wibowo memperkenalkan genre sastra perjalanan (travel narrative) yang belum begitu populer di Indonesia. Berbeda dengan genre travel writing sebagai panduan informasi perjalanan yang kita kenal saat ini, sastra perjalanan merupakan tulisan perjalanan yang ditulis layaknya karya sastra. Jenis karya ini sama sekali tidak membahas tentang “how to get there” tetapi merupakan karya tulis yang memadukan unsur jurnalistik, refleksi personal, dan keindahan sastra.

Selain memadukan ketiga unsur tersebut, penulisan sastra perjalanan juga membutuhkan riset yang dilakukan sebelum, selagi, dan sesudah melakukan perjalanan. Perjalanan yang dilakukan secara asal-asalan atau tidak dipersiapkan dengan matang, juga akan menghasilkan tulisan yang kering dan hambar.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai genre sastra perjalanan, SMARTRAVELER dan GOODREADS INDONESIA menggelar Travel Writing Forum Sembari Minum Kopi. Forum obrolan santai ini akan membahas tentang proses kreatif penulisan sastra perjalanan AGUSTINUS WIBOWO dan bagaimana kiat menstrukturkan pengalaman perjalanan dalam narasi oleh KRIS BUDIMAN, budayawan & penulis sejumlah buku sastra. Diskusi ini akan dimoderatori oleh ANI HIMAWATI, antropolog yang hobi traveling.

Obrolan santai penuh gizi ini akan diselenggarakan pada hari SABTU SORE, 7 MEI 2011 di Quack Quack Resto, Kompleks RRI Demangan Jl. Gejayan/Affandi, Yogyakarta, pukul 15.00 – 17.30 WIB. Acara terbuka umum dan GRATIS. Tersedia 100 bookmark unik untuk 100 peserta yang datang duluan dan DOORPRIZE berupa buku-buku terbitan GRAMEDIA.

Travel Writing Forum terselenggara atas dukungan GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA, QUACK QUACK RESTO, RRI Pro 2 JOGJA, Radio INDONESIA BUKU, dan Timkreatif REGOL. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.sembari-ngopi.blogspot.com, HP: 08121575474 & 0818258438 (SMS only).

Penanggung Jawab Acara

Suluh Pratitasari | e: suluhpratita@yahoo.com

[liputan media] Jalan-Jalan, Menuliskannya, dan Jadi Buku


liputan tembi.org

JALAN-JALAN, MENULISKANNYA, DAN JADI BUKUKegiatan yang mengasyikkan, pergi jalan-jalan lalu mengisahkannya dalam tulisan, lantas ada penerbit yang tertarik menerbitkannya menjadi buku. Itulah yang dialami Matatita –nama pena Suluh Pratitasari– dan Citra Dyah Prastuti. Mereka berdua membagi pengalamannya dalam acara obrolan santai Travel Writing Forum yang diselenggarakan oleh Smartraveler & Sembari Minum Kopi di I Cafe, 29 Maret lalu. Tita sudah menerbitkan 3 buku traveling, yakni Tales from the Road (2009), Eurotrip: Safe & Fun (2010) dan UK Trip: Smart & Fun (2011). Sedangkan Citra telah menelurkan buku Cheers UK! (2010). Acara ini mencoba memberikan alternatif atas buku-buku traveling yang hanya berupa panduan. Membuat tulisan perjalanan, kata Citra, bukan sekadar menulis panduan tapi penting untuk menuliskan kesan-kesan kita. Tulisan bisa pula disertai renungan (reflektif).

Bagaimana ceritanya sehingga ada penerbit yang tertarik menerbitkan tulisan mereka? Padahal keduanya tidak menyerahkan proposal atau naskah penerbitan buku ke penerbit. Mereka memilih untuk “dipinang” penerbit. Alasan mereka tidak “meminang” penerbit karena selain menghabiskan waktu, Tita khawatir jika konsep-konsep dalam proposalnya justru diambil dan JALAN-JALAN, MENULISKANNYA, DAN JADI BUKUdikembangkan sendiri oleh penerbit. Agar “dipinang” kedua penulis ini memiliki kiat yang sama yakni membuat blog. Ternyata banyak penerbit yang rajin berburu tulisan di blog-blog. ”Orang mungkin melihat penerbitan buku saya sebagai ’luck’ tapi sebenarnya ini hasil dari strategi saya,” tandas Tita.

Membuat blog banyak untungnya. Yang pasti biayanya murah. Dengan blog, mereka juga dapat mengukur jumlah pengunjung yang berminat terhadap tulisannya sehingga mengetahui apakah tulisan mereka disukai publik atau tidak. Agar disukai, salah satu kiatnya adalah menulislah yang bermanfaat bagi orang lain. Jadi blog bukan sekadar tempat curahan hati.

Selain itu, menurut Citra, penerbit tidak mengenalnya secara personal. Jadi blog merupakan media pengenalan mereka terhadap penerbit. ”Blog sama dengJALAN-JALAN, MENULISKANNYA, DAN JADI BUKUan CV (riwayat hidup) kita,” kata Citra.

Tidak heran kalau Tita dan Citra mempunyai banyak blog, bahkan blog Citra mencapai 18 buah. Mempunyai banyak blog merupakan bagian dari strategi juga. Setiap blog memiliki tema tersendiri, jadi tidak campur aduk. Fungsinya adalah untuk membranding diri (personal branding). Selain blog, Tita juga membranding diri melalui facebook dimana di statusnya ia hanya berbicara tentang traveling.

Menurut Citra dan Tita, semua orang bisa menulis. Yang penting, mulai saja dulu. Bagi yang belum terbiasa menulis, kiatnya adalah menulis seperti kita sedang bercerita atau mengobrol. Citra sendiri rajin membuat catatan harian, yang ternyata penting karena ketika dia absen menulis 1-2 hari maka kesan dan ingatannya tentang peristiwa atau daerah tertentu sudah menguap.

Mengenai cara mengemasnya nanti akan ditemukan sendiri dalam prosesnya. Menulis adalah bagaimana membuat JALAN-JALAN, MENULISKANNYA, DAN JADI BUKUdiri kita outstanding (istimewa). “Tapi jangan terlalu serius, nanti nggak mulai-mulai,” pesan Citra, yang sehari-harinya adalah wartawan Kantor Berita Radio 68H.

Kiat lain adalah mengusahakan agar tulisan tidak konvensional dan tidak seperti brosur. Bisa dikombinasikan dengan kondisi di negara lain, misalnya soal kondisi perkeretaapian. Tita menambahkan perlunya memperkaya literatur karena akan memperkuat data dan membuat tulisan lebih mempunya angle (sudut pandang) yang kaya. Data juga penting dalam memberikan konteks tulisan sehingga ketika menuliskan hal-hal yang negatif tulisan traveling tidak dinilai sebagai tulisan yang menjelek-jelekkan. Tita sendiri, lulusan jurusan antropologi UGM, tertarik pada sisi-sisi seni, sejarah dan antropologi.

Angle, menurut mereka, harus dipilih dengan cermat. Selain angle, kekhasan tulisan bisa dibentuk oleh gaya dan ekspresi. Meskipun dalam bukunya masing-masing, Citra dan Tita mengomentari daerah atau bangunan yang sama tapi tulisan mereka tetap berbeda. Citra kembali menekankan pentingnya kesan (impresi) sebagai faktor penting dalam tulisan traveling.

Yogya adalah kota wisata yang kaya dengan obyek traveling. Klop bagi yang berminat untuk menulisknya. Ada satu fakta menarik yang dilontarkan Citra dan Tita tentang penulisan traveling, yakni sebagian besar buku traveling di Indonesia ternyata ditulis oleh penulis baru. Nah!

barata

profil duo travel writers

CITRA DYAH PRASTUTI

Saat ini memiliki 13 blog yang tentu saja tidak semuanya diupdate secara teratur. Akhirnya ada gunanya juga punya 13 blog, karena salah satunya sudah menjadi buku ‘Cheers, UK!’ bersama Gagas Media (Agustus 2010).

Dari dulu sampai sekarang belum berubah tempat kerja, a proud radio journalist of KBR68H. Ini adalah singkatan dari Kantor Berita Radio 68H di Utan Kayu, Jakarta.

Ketika 2004 ikut training jurnalis di Swedia, mampir di toko buku, melihat buku tentang menjadi travel writer. Mendadak dapat wangsit dan pingin jadi travel writer. Baru terwujud setahun berikutnya ketika menulis blog pippilottagoinguk.blogspot.com (now closed for public) selama kuliah di London, UK. Dari situ lah baru berasa ada gunanya juga jadi jurnalis radio, kuliah Penulisan Populer di Fakultas Sastra UI, ikutan tabloid kampus Go FISIP Go! dan jadi mahasiswa Jurusan Komunikasi FISIP UI.

2005-2006 adalah masa-masa paling indah karena bisa tinggal di Inggris secara gratis tis tis, dengan modal ‘memperdaya’ Pemerintah Inggris sehingga mau bayarin beasiswa Chevening. Mengambil S2 Critical Media and Cultural S

tudies di SOAS, University of London, yang ada di tengah kota. Tinggal di Paul Robeson House dekat Kings Cross Station, yang nggak kalah ngehits lokasinya di tengah gemerlap London.


MATATITA a.k.a Suluh Pratitasari

Mejadi penulis dan jurnalis adalah mimpi indah yang selalu mengusik sejak mulai m

embaca majalah HAI saat kelas 6 SD. Pemimpin Redaksinya kala itu Arswendo Atmowil

oto yang menulis buku “Mengarang itu Gampang”

(1986) juga membuatnya bermimpi menjadi Pemimpin Redaksi jika besar nanti. Mimpi yang muluk-muluk itu dicobanya perlahan dan penuh keyakinan sejak cerpen pertama yang ditulisnya saat kelas 6 SD dimuat di majalah anak “Ceria” terbitan Semarang.

Masa remajanya lalu diisi dengan menulis cerpen dan artikel popu

lar yang dimuat di majalah HAI, GADIS, ANEKA, dan MODE. Setelah kuliah barulah bergabung di Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM sebagai redaktur Majalah Balairung. Didukung dengan latar belakang studi di jurusan Antropologi, menjelajah dan menulis merupakan kegiatan yang lekat dengan kesehariannya.

Pengalaman kerja sebagai Humas Dagadu Djokdja (1996 – 2001) membuatnya memiliki keberanian merintis UKM (Usaha Kecil Menegangkan!) di bidang kreatif (merchandise, graphic design, media & publishing) sejak Maret 2001. Namun, mimpi menjadi penulis dan jurnalis itu tak pernah padam, bahkan menemukan ruang yang makin leluasa untuk diekspresikan setelah merintis usaha sendiri. Berbagai proyek yang memungkinkannya menjelajah dan menulis diburunya. Beruntung sejumlah media internal dan PR dari perusahaan nasional mempercayakan perusahaannya untuk menggarap mulai dari reportase, editorial, lay out, hingga produksi. Nah lo, berasa jadi Pemimpin Redaksi sekaligus Pemimpin Perusahaan beneran kan?

Saat ini lebih menikmati menjadi penulis dan ‘Pemimpin Redaksi’ untuk sejumlah blog yang ditulisnya.



smartraveler’s travel writing forum | 29 maret 2011

Sejak dua tiga tahun belakangan ini, penerbitan buku-buku traveling di Indonesia kian marak saja. Destinasi wisata yang dikupas juga beragam, dari negara-negara lintas benua, negara-negara Asia, tak ketinggalan kota-kota di Indonesia. Penulisnya, adalah para traveler yang melakukan perjalanan secara independent, bukan mengikuti paket tour.

Secara umum, buku traveling yang diterbitkan (dan laris) di Indonesia adalah buku panduan yang berisi how to get there, where to stay, dan sejenisnya. Padahal, definisi travel writing sebenarnya cukup luas, bukan sekedar menulis panduan perjalanan. Mengutip Wikipedia.org, travel writing didefinisikan sebagai berikut: travel writing is a genre that has as its focus accounts of real or imaginary places. The genre encompasses a number of styles that may range from the documentary to the evocative, from literary to journalistic, and from the humorous to the serious.
Buku-buku travel writing yang cukup popular di Barat antara lain : “The Great Railway Bazaar” (Paul Theroux, 1975), “Into the Wild” (Jon Krakauer, 1996); “Eat, Pray, Love” (Elizabeth Gilbert, 2006); dan banyak lainnya. Di Indonesia ada “The Naked Traveler” (Trinity, 2007); “Tales from the Road” (Matatita, 2009); “Selimut Debu” (Agustinus Wibowo, 2010), dan “Cheers UK!” (Citra Dyah Prastuti, 2010).
Untuk menyemarakkan kegairahan penulisan dan penerbitan buku-buku traveling, SMARTRAVELER & SEMBARI MINUM KOPI (SMK) menggelar Travel Writing Forum. Forum obrolan santai ini akan mengupas proses kreatif dua travel writer Indonesia, yaitu MATATITA, yang sudah menerbitkan 3 buku traveling “TALES from the ROAD” (2009), “EUROTRIP: Safe & Fun” (2010), dan “UKTRIP: Smart & Fun” (2011) dan CITRA DYAH PRASTUTI penulis buku “Cheers UK!” (2010). Sharing proses kreatif travel writing ini akan dimoderatori oleh LUTFI RETNO WAHYUDYANTI yang juga tengah menyiapkan penerbitan novel perjalanan pertamanya.
Obrolan penuh gizi ini akan diselenggarakan pada hari SELASA SORE, 29 Maret 2011 di I Café (Indraloka Homestay) Jl. Cik Ditiro No. 18 Yogyakarta, pukul 15.00-17.00WIB. Acara terbuka umum dan GRATIS. Tersedia 100 bookmark unik untuk 100 peserta yang datang duluan dan DOORPRIZE kaos, tote bag, mug, dan buku-buku traveling dari sponsor.
Travel Writing Forum yang diselenggarakan oleh SMARTRAVELER & SEMBARI MINUM KOPI ini dikelola secara sukarela oleh sejumlah orang muda penikmat buku dan didukung sepenuhnya oleh Penerbit Bentang Pustaka, B-first Publishing, Timkreatif REGOL, dan I Cafe. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi http://www.sembariminumkopi.com atau 0818258438 (SMS only).
Penanggung Jawab Acara
Suluh Pratitasari | e: suluhpratita@yahoo.com
—-
SEMBARIMINUMKOPI merupakan forum obrolan santai antara penulis dan pembaca yang digagas TIMKREATIFREGOL sejak 2007. Ide pembentukan obrolan ini berangkat dari banyaknya gagasan besar yang terlahir dari obrolan santai sembari minum kopi. Hingga kini SMK telah menghadirkan sejumlah penulis antara lain Andrea Hirata, Putu Fajar Arcana, Kris Budiman, Sapardi Djoko Damono, juga sejumlah travel writer seperti Matatita, Andrei Budiman, Nancy Margaretha, Imazahra, dan kini Citra Dyah Prastuti. Info http://www.sembariminumkopi.com
—–
SMARTRAVELER merupakan ‘travel writing company’ yang didirikan oleh Matatita (Maret, 2011). Lembaga ini dirintis untuk memberi solusi bagi para traveler yang ingin mengasah skill di bidang travel writing. Inf lebih lanjut http://www.matatita.com

EROPA dalam KATA

liputan Balairung Press

Sabtu (24/7) lalu, dua penulis buku perjalanan berhasil menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung Cafe MOMENTO.Kedua penulis, Matatita dan Andrei Budiman, hadir sebagai narasumber dalam helatan bertajuk “travel writing & sharing info backpacking EROPA”. Acara yang bertujuan berbagi informasi tentangbackpacking dan travel writing ini diselenggarakan oleh forum Sembari Minum Kopi (SMK) dan komunitas Backpacker Dunia (chapter Yogyakarta).

Obrolan sore ini sendiri dibagi menjadi dua sesi: sesi sharing dan sesi travel writing. Sesi sharing dibuka melalui impresi Matatita terhadap peninggalan sejarah dan kebudayaan di Eropa. “Ketika sudah berada disana (Eropa), saya menjadi tersentuh menjaga yang ada disini (Indonesia),” tutur penulis buku TALES from the ROAD itu. Dalam empat puluh lima menit berikutnya, ia berbagi pengalamannya yang juga akan ia tuangkan dalam buku keduanya, “EUROTRIP safe & fun”.

Setelah lima puluh menit Matatita dibiarkan bercerita solo, hadirlah Nancy Margaretha dan Andrei Budiman yang ikut urun rembuk. Nancy Margaretha, Country Ambassador untuk Indonesia dari couchsurfing—komunitas backpacker dunia—berbagi cerita tentang cara mendapatkan akomodasi yang murah. Ia memaparkan kemudahan akomodasi dengan sistem couchsurfing, yang mengandalkan proses bertamu dan menginap di rumah anggota komunitas backpacker sedunia. Sedangkan Andrei Budiman menegaskan bahwa bukan hanya orang pintar yang bisa pergi ke Eropa. “Tidak semua orang yang mendapat beasiswa (ke luar negeri) itu pintar, rasa percaya diri juga diperlukan,” ujarnya.

Pengarang novel Travellous itu menguatkan pernyataannya dengan bercerita tentang pengalaman pertamanya ke Eropa—saat sesi travel writing dimulai. Ia bercerita bahwa ia dapat pergi ke Eropa dengan uang terbatas, meski ia harus rela bermalam di bandara. “Saya bukanlah orang terorganisir secara baik, saya tidak pernah merencanakan perjalanan saya,” ungkap Andrei. Moderator travel writing sore itu, Nicholas Warouw, menganggap hal itu sebagai salah satu unsur kelebihan Andrei dalam hal travel writing. “Spontanitas, itulah yang menjadi kunci Andrei mendapat pengalaman-pengalaman unik dalam perjalanan,” sambung Nicholas.

Sesi travel writing sore itu diakhiri dengan pembagian hadiah untuk para penanya. Di akhir sesi Matatita mengemukakan pendapatnya tentang tujuan acara ini. “Forum ini untuk ngomporin teman-teman agar lebih tertantang melakukan travelling, jangan terlalu berat di pertimbangan,” tegasnya. Andrei juga menambahkan bahwa jangan merasa takut untuk melakukan pengembaraan. “Semakin kalian sering travelling ke luar negeri, kalian akan semakin mencintai negara kalian sendiri,” pungkasnya. [Apé]

travel writing & sharing info backpacking EROPA

Eropa adalah mimpi. Menyaksikan peninggalan berusia ribuan tahun yang masih terjaga kelestariannya, berada di antara gedung-gedung berusia ratusan tahun yang masih berdiri kokoh, keluar masuk museum dengan berbagai koleksi yang menakjubkan, duduk-duduk di taman yang hijau dan lapang, berjalan-jalan di trotoar yang bersih, atau menikmati galeri seni, konser musik, dan teater kelas dunia adalah sebagian gambaran dari impian akan Eropa. Pusat peradaban dunia yang terlah berusia ribuan tahun ini memang terlihat indah dan cantik bersisian dengan peradaban global.

Bagi sebagian anak muda Indonesia, Eropa bukan lagi mimpi, tetapi the next destination. Dengan semangat backpacking alias independent traveling, keindahan Eropa dapat direguk dengan budget yang tak terduga: murah dan terjangkau. Sumbangan teknologi internet memberi kontribusi yang berarti bagi para backpacker Indonesia: memudahkan menyusun itinerary karena internet memberikan informasi tanpa batas mengenai negeri-negeri yang ingin dikunjungi, booking tiket secara online yang harganya jauh lebih murah, atau berkenalan dengan sesame backpacker dari penjuru dunia untuk mencari teman jalan maupun tumpangan akomodasi. Selain itu terbentuknya komunitas-komunitas backpacker di Indonesia juga menjadikan perjalan ke luar negeri bukan lagi mimpi.

Backpacker Indonesia yang menulis buku berisi informasi tentang Eropa dalam bahasa Indonesia pun mulai banyak, seperti “6 Bulan Keliling Eropa Hanya 1.000 dollar” (Marina S.K), “Ciaoo Italia” (Gama Harjono), “Backpacking Modal Jempol” (Nancy Margaretha), “Traveler’s Tale” (Aditya Mulya, dkk), “Travellous” (Andrei Budiman), “Panduan Hemat Keliling Belanda, Belgia, Luxembourg” (Sari Musdar), serta “EUROTRIP safe & fun” (Matatita).

Untuk menyemarakkan kegairahan mengunjungi Eropa, forum Sembari Minum Kopi (SMK) dan komunitas Backpacker Dunia (chapter Jogyakarta) menggelar Travel Writing Forum dan Sharing Info Backpacking Eropa. Obrolan sore ini akan mengajak para backpackers berbagi informasi tentang perjalanan ke Eropa, dari mulai persiapan mengurus visa hingga menyusun itinerary. Selain itu, agar perjalanan ke Eropa menjadi lebih bermakna, dalam forum ini juga akan dikupas mengenai proses kreatif penulisan travel writing, baik yang berbentuk novel maupun travelogue dan panduan perjalanan.

Hadir sebagai narasumber dalam obrolan sore kali ini adalah MATATITA, penulis buku “TALES from the ROAD” dan tengah menanti buku travelogue ke-2 yang siap diluncurkan “EUROTRIP safe & fun”; dan ANDREI BUDIMAN penulis novel perjalanan “Travellous: A Travel Journal” yang juga siap meluncurkan Travellous ke -2 dalam waktu dekat ini. Sharing proses kreatif travel writing dan info backpacking Eropa ini akan dimoderatori oleh NICHOLAS WAROUW, peneliti dan dosen penulisan kreatif yang sudah menjelajah berbagai negara.

Berminat gabung dalam obrolan bergizi ini? Jangan lupa, SABTU SORE, 24 JULI 2010 mulai pukul 14.00 – 17.00 WIB bertempat di Cafe MOMENTO, Jl. Jembatan Merah (sebelah Univ. Mercu Buana/eks LIA) Prayan – YOGYAKARTA. Acara seru ini terbuka untuk umum dan GRATIS. Tersedia 100 bookmark unik untuk 100 peserta yang datang duluan dan DOORPRIZE buku traveling best seller karya Trinity “The Naked Traveler”, serta kaos keren Sembari Minum Kopi.

Obrolan Sore Sembari Minum Kopi & Komunitas Backpacker Dunia dikelola oleh LAURA (Lab. Antropologi untuk Riset & Aksi) dan didukung sepenuhnya oleh Penerbit Bentang Pustaka, B-first Publishing, Timkreatif REGOL, dan Cafe MOMENTO. Untuk informasi lebih lanjut, silakan melongok situs kami di http://www.sembariminumkopi.com atau 081808300042 dan 0818258438.

mari menuliskan kisah perjalanan

mas salman faridi (ceo bentang pustaka), matatita (travel writer :p), dan dita (moderator yang juga penyiar radio). sayang mas wahyu hidayat (reader’s digest indonesia) tidak bisa hadir dikarenakan pesawat BATAL terbang (mandalair) huh…!
mas wahyu baru tiba di jogja jam 18.30 dengan pesawat lain (GA)

ini dia aksi panggung para narasumber.
“oleh-oleh yang paling berharga bagi seorang traveller adalah
TULISAN dan FOTO” kata matatita. ayo menulis…!

begitu tiba sesi tanya jawab…banyak banget yang mengangkat tangan..
antusias banget…!

habis dengerin ‘hasutan’ matatita untuk menulis kisah perjalanan…
beli bukunya dulu untuk mempelajari style penulisan..
setelah itu minta tandatangan dan travel quotate dari penulisnya..

traveling is experiencing different cultures


Selasa, 11 Agustus 2009, 23:15 WIB

Indonesia Lemah Dalam Packaging Daya Tarik Wisata

Iwan Pribadi – GudegNet

Dalam hal menjual daya tarik wisata, Indonesia masih memiliki kelemahan dalam hal packaging, sehingga sesungguhnya apa yang dimiliki Indonesia banyak yang jauh lebih menarik apabila, misalnya, dibandingkan dengan Malay Heritage Center di Singapura yang landmark-nya hanya sebuah Rumah Minangkabau saja.

Ini yang mendorong penerbit di Indonesia untuk menerbitkan dan membuat tulisan-tulisan yang masuk ke dalam kategori traveling, yang baru muncul sekitar lima tahun yang lalu. Semuanya itu didasari pemikiran bahwa apabila digarap secara serius, pariwisata di Indonesia sesungguhnya sangat menjanjikan. Demikian diungkapkan oleh Salman Farid kepada GudegNet Sabtu lalu (8/8) di FoodFezt Yogyakarta.

Pria yang menjabat sebagai CEO Bentang Pustaka ini menambahkan, kemudahan yang ada pada saat ini seperti misalnya teknologi blog, juga memiliki peranan dalam semakin mempopulerkan tulisan-tulisan traveling di masyarakat.

Dengan adanya tulisan-tulisan seperti itu, apalagi yang telah berhasil diterbitkan sebagi buku, diharapkan dapat semakin membuka mata masyarakat luas umumnya dan kaum muda khususnya bahwa banyak hal yang dapat diperoleh dan dipetik selama mengadakan perjalanan atau traveling, jadi tidak melulu bersenang-senang belaka.

Pendapat tersebut dibenarkan oleh Matatita, yang belum lama ini meluncurkan buku traveling pertamanya yang berjudul Tales From The Road. Menurutnya, hal yang menariknya selama perjalanan bukanlah pada pemandangan atau landscape suatu lokasi tertentu yang sedang dikunjungi, akan tetapi yang menarik perhatiannya adalah sisi sosial budaya masyarakat di tempat tersebut yang menarik untuk diamati dan dipahami, yang kelak sangat bermanfaat untuk pengayaan wawasan dan pemahaman seseorang atas budayanya sendiri.

Bagi Matatita sendiri, buku yang baru saja diterbitkannya tersebut diharapkan dapat menjadi pemicu bagi siapapun yang memiliki kesempatan dan waktu untuk jalan-jalan nampin tidak pernah dituangkan dalam bentuk tulisan lain, selain dalam bentuk laporan perjalanan kerja saja.

Jadi singkatnya, menurut perempuan yang juga pimpinan Regolmedia ini, traveling baginya adalah bukan melulu melihat pemandangan-pemandangan yang indah, akan tetapi lebih dimaknai sebagai experiencing diferent culture agar dapat menjadi sarana refleksi bagi diri sendiri, yang kemudian dapat menjadi sebuah bahan tulisan agar dapat dibaca dan dapat dijadikan sarana refleksi oleh lebih banyak orang lagi.

foto: dokumen REGOL