liputan GudegNet untuk Travel Writing Weekend Forum

Selasa, 11 Agustus 2009, 23:28 WIB

Menembus Penerbit Buku dengan Menuliskan Kisah Perjalanan

Iwan Pribadi – GudegNet

Menuliskan Kisah PerjalananSebenarnya menembus penerbit buku untuk sehingga dapat menerbitkan karya seseorang, tidak sesukar yang selama ini dibayangkan.

Karena sesungguhnya para penerbit saat ini sedang agresif dalam mencari penulis-penulis untuk diterbitkan karyanya menjadi sebuah buku.

Demikian ungkap Salman Farid ketika mengawali acara Sembari Minum Kopi yang kali ini mengangkat tema Menuliskan Kisah Perjalanan: Kiat Menembus Media dan Penerbit.

Bahkan, CEO Bentang Pustaka ini menambahkan, sejak beberapa tahun belakangan para penerbit juga mencari tulisan-tulisan yang dinilai layak untuk diterbitkan dan marketable di Internet dengan mengunjungi blog-blog yang banyak tersebar di sana.

Beberapa yang tulisan di blog yang berhasil diangkat menjadi tulisan antara lain “The Naked Traveler (Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia)” karya Trinity, dan yang baru saja terbit adalah “Tales From The Road” karya Matatita.

MatatitaMatatita yang juga hadir kesempatan ini turut membagikan tips dan pengalamannya seputar menerbitkan kisah perjalanan yang semula berada di blog menjadi sebuah buku.

Menurutnya, jika ingin lebih mudah ditemukan oleh penerbit, maka sebaiknya membuat blog yang segmented dan membicarakan satu hal saja yang khusus dan spesifik, misalnya tentang perjalanan saja, tentang kuliner saja, dan lain sebagainya.

Khusus untuk menuliskan kisah perjalanan, Matatita memberikan masukan agar jangan terpesona dengan keindahan tempat yang sedang kita datangi, sebab jika itu terjadi maka akan melahirkan tulisan yang datar, biasa-biasa saja, dan sudah banyak dibahas oleh orang lain yang mengunjungi tempat itu.

Untuk itu akan lebih baik jika tulisan perjalanan tersebut memerhatikan hal-hal yang kecil seperti budaya dan keseharian masyarakat di tempat tersebut, dan berusaha dekat dan melebur dengan penduduk setempat dengan cara menghormati budaya mereka. Dengan demikian niscaya akan ditemukan hal-hal yang khas dan menarik yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.

Pada akhirnya, Matatita berpesan bahwa oleh-oleh atau produk yang sebenarnya dari seorang traveler itu adalah berupa foto-foto dan/atau tulisan. Untuk itu ia berpesan kepada siapapun yang memiliki hobi jalan-jalan untuk jangan ragu-ragu untuk menuliskan kisah perjalanannya. Siapa tahu ada penerbit yang melirik dan kemudian tertarik untuk menerbitkan.

Advertisements

menulis kisah perjalanan (2)


Sembari Minum Kopi (SMK) kembali menggelar forum obrolan santai antara penulis & pembaca dengan tema Menuliskan Kisah Perjalanan (Travel Writing). Pada forum sebelumnya, kami menghadirkan menghadirkan Andrea Hirata & Imazahra untuk berbagi kisah backpacking yang pernah mereka lakukan di Eropa, forum kali ini lebih dari sekedar sharing para traveller atau backpacker. Kami akan berbagi tips dan kiat penulisan perjalanan agar layak dimuat di media cetak maupun dilirik penerbit.

Travel Writing Forum (TWF) kali ini akan menghadirkan MATATITA, penulis buku travelogue TALES from the ROAD. Matatita akan membagi tips proses kreatif penulisannya dan sejumlah kiat bagaimana menemukan angle atau tema menarik untuk ditulis selagi di jalan (traveling). Narasumber lain yang juga hadir adalah WAHYU HIDAYAT redaktur senior READER’s DIGEST Indonesia dan SALMAN FARIDI (CEO penerbit BENTANG PUSTAKA) yang akan membocorkan ‘rahasia’ dapur redaksi dan kriteria naskah yang layak muat & terbit. Tak hanya itu, mereka juga akan bermurah hati membagikan tips penulisan kepada traveler agar tulisannya bisa diusulkan redaksi untuk diterbitkan.

TWF ini akan diselenggarakan pada hari SABTU, 8 Agustus 2009 di Yogyakarta, jam 15.00 -17.00 WIB. Tempat di FOODFEZT Jl. Kaliurang Km 5.5 (sebelah timur RM Sederhana) Yogyakarta. Seperti biasa, GRATIS dan tersedia GoodyBag dari sponsor dan full doorprize (buku &t-shirt). Seru kan, kalo bulan depan weekends di Jogja?

Oh ya..jika pengin langsung mempraktekkan tips yang diperoleh di TWF ini, boleh kok sekalian gabung di agenda Bike 2 Kotagede (9 Agustus 2009), menjelajah kawasan heritage Kotagede. Info selengkapnya kunjungi silakan klik & donlot poster berikut atau kunjungi situsnya www.wisata.regolmedia.com


liputan Harian JOGJA untuk Menulis Puisi Cinta

Djoko Damono bagikan tips menulis puisi cinta

Sabtu, 21 Februari 2009 12:14:48

JOGJA: Komunitas Regol Jogja mengadakan forum talkshow “Obrolan Sore Sembari Minum Kopi”, sore ini (21/2) pukul 15.00-17.30 WIB, bertempat di Cafe Momento Jl Jembatan Merah (Sebelah Lembaga Indonesia-Amerika), Prayan, Yogyakarta.

Forum Obrolan Sore Sembari Minum Kopi hari ini mengangkat tema “Menulis Puisi Cinta Bersama Sapardi Djoko Damono”. Sembari menikmati secangkir kopi hangat, peserta dapat langsung berdiskusi dengan Sapardi Djoko Damono, seorang pujangga Indonesia terkemuka.

Sapardi Djoko Damono dikenal dari berbagai puisi yang menggunakan kata-kata sederhana namun mudah menyentuh wilayah emosi terdalam bagi pembacanya. “Aku Ingin” merupakan salah satu puisi Sapardi yang banyak dikutip orang untuk mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang.(Rossa)

sumber: HarianJogja.com

woro-woro di Kedaulatan Rakyat

Regol Hadirkan Sapardi Djoko Damono

20/02/2009 08:20:08
TIM Kreatif Regol kembali menggelar obrolan sore ‘Sembari Minum Kopi’ pada Sabtu (21/2) mulai pukul 15.00 di Cafe Momento, Prayan Yogyakarta. Kali ini menghadirkan maestro puisi cinta Sapardi Djoko Damono dengan tema Menulis Puisi Cinta. Prof Dr Sapardi Djoko Damono, merupakan Guru Besar Fak Sastra UI yang lahir di Solo, 20 Maret 1940 ini telah melahirkan sejumlah karya antara lain, DukaMu Abadi, Mata Pisau, Perahu Kertas, Sihir Hujan, Hujan Bulan Juni, Arloji dan lainnya. Lewat karyanya, ia meraih berbagai penghargaan seperti Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia. (M-4)-g

sumber Harian Kedaulatan Rakyat

undangan: MENULIS PUISI CINTA bersama SAPARDI DJOKO DAMONO

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

AKU INGIN merupakan salah satu puisi karya Sapardi Djoko Damono (SDD) yang lekat dalam ingatan banyak orang: baik mereka yang memang menyukai karya sastra dan puisi, atau pun mereka yang mengenalnya lewat senandung Ari Reda dalam theme-song film Cinta Dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho.

Puisi-puisi Sapardi memang dikenal sangat lembut, sopan, dengan pilihan kata sederhana yang mudah menyentuh wilayah emosi terdalam bagi pembacanya. Tidaklah mengherankan jika puisi SDD banyak dikutip untuk surat cinta, undangan perkawinan, ucapan selamat ulang tahun, serta untuk berbagai kepentingan lain yang bersifat personal. Sejumlah kritikus menyebut karya SDD sebagai puisi kamar yang lebih tepat dibacakan dalam suasana hening, meski juga terdapat sejumlah puisinya yang dideklamasikan. Karena itulah puisi-puisi Sapardi semakin terdengar syahdu manakala digubah menjadi lagu (musikalisasi). Hanya dengan iringan denting gitar, musikalisasi puisi SDD mampu menyedot emosi para pendengarnya.

Lalu, seperti apa sih proses kreatif Sang Maestro Puisi Cinta ini?

TIMKREATIFREGOL mengajak rekan-rekan dalam berpartisipasi dalam obrolan sore SEMBARI MINUM KOPI yang mengangkat tema MENULIS PUISI CINTA bersama SAPARDI DJOKO DAMONO.

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, merupakan Guru Besar Fak. Sastra UI yang lahir di Solo, 20 Maret 1940 ini telah melahirkan sejumlah karya antara lain: DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah Sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000) dan banyak lagi. Ia juga menerjemahkan karya-karya sastra dunia seperti: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988).

Diskusi ini akan dimoderatori oleh YETTI LUTIYAN SUPRAPTO, dokter hewan kelahiran Magelang, 17 Maret 1980 yang terlibat aktif dalam kegiatan seni peran dan tarik suara. Sejak masih kuliah di Fak. Kedokteran Hewan UGM, Yetti tercatat sebagai anggota Teater Gadjah Mada dan Paduan Suara Mahasiswa UGM. Sejumlah pertunjukan yang pernah diikutinya antara lain “Konser Doea Zaman” dan “Konser Lesehan” yang merupakan kerjasama antara PSM UGM dengan Cisya Kencana Orchestra, coordinator roadshow Teater Musik Oyot Suket dengan Sawung Jabo, dan pementasan teater di lingkungan kampus UGM. Kekagumannya pada Sapardi Djoko Damono juga melahirkan musikalisasi yang dilakukannya bersama teman-temannya. Saat ini Yetti aktif di Yayasan Gaia, mengelola Kawasan Ledok Sambi, Sleman Yogyakarta.

So, isilah akhir pekanmu dengan bergabung dalam obrolan seru kami. Jangan lupa, SABTU SORE, 21 FEBRUARI 2009 mulai pukul 15.00 – 17.30 WIB bertempat di Cafe MOMENTO, Jl. Jembatan Merah (sebelah LIA) Prayan – YOGYAKARTA. Acara seru ini terbuka untuk umum dan GRATIS. Tersedia 100 suvenir cinta menarik untuk 100 peserta yang datang duluan dan banyak DOORPRIZE untuk yang berpartisipasi aktif.

Obrolan Sore SEMBARI MINUM KOPI ini terselenggara berkat kerjasama antara TIMKREATIFREGOL dengan Yayasan Umar Kayam, Yayasan Kampung Halaman, Omah Opak, BookLover MEMORABILIA, dan Cafe MOMENTO. Untuk informasi lebih lanjut, silakan melongok situs kami di http://www.sembariminumkopi.com atau SMS 0818264366

Penanggungjawab ACARA

Suluh Pratitasari – TIMKREATIFREGOL

——-

SEMBARIMINUMKOPI merupakan forum obrolan santai yang digagas TIMKREATIFREGOL sejak akhir 2007. Ide pembentukan obrolan ini berangkat dari banyaknya gagasan besar yang terlahir dari obrolan santai sembari minum kopi. SMK senantiasa berusaha menyajikan obrolan yang mampu melahirkan ide-ide kreatif, terutama di bidang penulisan. Hingga kini SMK telah menghadirkan sejumlah penulis antara lain Andrea Hirata, Putu Fajar Arcana, Kris Budiman, dan kini Sapardi Djoko Damono.

kr meliput sembari minum kopi

Liputan Kedaulatan Rakyat utk Sembari Minum Kopi

Obrolan Soal Novel Etnografi

17/05/2008 05:27:44 MENULIS tidak perlu berpikir jenis apakah tulisan itu nantinya, apakah itu jadi novel etnografi atau novel-novel yang lain. Tugas penulis kalau itu kebetulan antropolog melakukan kritik terhadap kebudayaan, sehingga kalau seseorang sudah menetapkan diri menjadi penulis akan menjadi kritis terhadap kebudayaan. Soal apakah itu diterima terserah kepada publik pembacanya.

“Jadi, novel etnografi itu bukan hanya karena menulis tentang suku-suku bangsa,” ujar antropolog Kris Budiman penerima penghargaan Sastra Indonesia, Yogyakarta, 2007 dalam obrolan ‘Sembari Minum Kopi’ yang digelar Tim Kreatif Regol tentang ‘Menulis Novel Etnografi’ di Kopi-Kopi Jl Kartini, Sagan yang juga menghadirkan sastrawan Putu Fajar Arcana, Sabtu (10/5).

Dalam menulis novel etnografi Kris mengatakan, tidak bisa menerima begitu saja fakta yang didapat. Karya etnografi juga tidak harus bercerita mengenai suatu suku bangsa, melainkan le bih mengisahkan kepada kelompok lain. Supaya tulisan tidak kering maka penulis novel etnografi harus kaya dengan imajinasi. “Kalangan mahasiswa sekarang sulit berimajinasi,” ujar Kris. Dijelaskan oleh Managing Director Tim Kreatif Regol, Suluh Pratitasari, novel etnografi karya fiksi mampu mendeskripsikan kehidupan sosial budaya masyarakat tertentu.

Etnografi merupakan istilah dalam antropologi untuk menunjuk pada laporan penelitian tentang suatu masyarakat dan kebudayaan yang ditelitinya. “Penelitian antropologi untuk menghasilkan karya etnografi ini juga sangat khas, kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk menyebut metode penelitian antropologi atau metode etnografi,” ujar Suluh (Asp)-k

Kesusastraan: Etnografi Kritik terhadap Kebudayaan

Liputan KOMPAS untuk Sembari Minum Kopi “Menulis Novel Etnografi” Senin, 12 Mei 2008 | 10:33 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Dengan menuliskan kebudayaan lain, tulisan etnografi diharapkan dapat menjadi kritik terhadap kebudayaan. Untuk itu, diperlukan riset yang mendalam agar tulisan tersebut bisa bersikap kritis. Demikian disampaikan antropolog sekaligus pengajar program studi Pascasarjana Kajian Budaya dan Media Kris Budiman dalam diskusi bertema Menulis Novel Etnografi yang diadakan Komunitas Regol, di Yogyakarta, Sabtu (10/5).

Penulis tidak bisa taken for granted (menerima begitu saja fakta yang diterima) dalam menulis novel etnografi, perlu melakukan riset dan proses familiarisasi, ujar Kris. Kris menuturkan, perlu kemampuan sebagai seorang etnografer dalam menuliskan sebuah karya etnografi. Karya etnografi berbicara mengenai metode dan hasil kerja yang dilakukan seorang antropolog, tuturnya. Dalam menulis novel etnografi, lanjut Kris, pengarang juga perlu menjaga jarak agar tidak terjadi stereotip terhadap obyek yang ditulis. Untuk itu, penulis mesti membebaskan diri dari etnosentrisme atau pandangan yang berpangkal pada kebudayaan sendiri sehingga dapat meremehkan kebudayaan lainnya.

Jika memberikan jarak terlalu jauh terhadap obyek yang ditulis, akan memberikan kesan yang buruk-buruk saja terhadap pembaca. Sedangkan jarak yang terlalu dekat, juga akan memberikan kesan sebaliknya, katanya. Menurut Kris, tulisan etnografi juga tidak mesti harus bercerita mengenai suatu suku bangsa, melainkan lebih mengisahkan kepada kelompok lain (the other). Pandangan bahwa etnografi mengisahkan suatu suku bangsa ini perlu direvisi, tuturnya.

Agar sebuah novel etnografi enak dibaca, Kris menambahkan, perlu imajinasi yang kuat dari sang pengarang. Jangan hanya berkutat dalam pembedaan antara fakta dan fiksi. Yang terpenting, perlu karakterisasi dan kecermatan penyusunan plot sehingga pesan novel tersebut bisa tersampaikan, tuturnya. Sastrawan dan jurnalis Putu Fajar Arcana mengatakan imajinasi sangat penting untuk dimiliki seorang pengarang dalam membuat suatu karya. Tanpa imajinasi, tulisan hanya jadi paparan fakta yang kering, ujarnya. Putu menuturkan, untuk memperkuat daya imajinasinya, seorang penulis memerlukan banyak referensi dengan membaca berbagai karya sastra. Selain itu, Putu juga mengingatkan mengenai pentingnya membaca kamus untuk memperkaya diksi sebuah tulisan. Penulis memerlukan kemampuan dalam menyusun sebuah gramatika bahasa dengan diksi yang penuh imajinasi, ucapnya. (A06)

novel etnografi sebagai kritik budaya

Oleh: Joko Widiyarso – GudegNet

Obrolan Sembari Minum Kopi - Menulis Novel EtnografiNovel etnografi adalah tulisan yang dibuat oleh seorang penulis yang menuliskan tentang “hal lain” yang baik secara goegrafis maupun antropologis berada di luar wilayah si penulis. Jika si penulis juga merupakan orang asli dari wilayah yang ditulis, tulisannya hanya akan menghasilkan warna lokal saja, dan bukan sebuah produk etnografi.

“Mengutip dari Marcus & Fischer, etnografi merupakan tulisan seseorang mengenai the other. Hal ini berarti si penulis bukan salah satu anggota masyarakat dari daerah yang ditulisnya. Jika si penulis adalah native dari daerah tersebut, produk yang dihasilkan hanyalah sebuah warna lokal, bukan produk etnografi,” kata sastrawan sekaligus antropolog, Kris Budiman dalam acara Sembari Minum Kopi di Kopi Kopi Sagan, Yogyakarta (10/05).

Karena tulisan etnograf berdasar pada sudut pandang the native yang dibuat oleh orang lain, maka novel etnografi bisa menjadi sebuah kritik budaya yang efektif bagi kebudayaan sendiri.

“Novel etnografi itu bisa menjadi sebuah kritik budaya yang efektif bagi kebudayaan sendiri. Kerena etnografi ini dibuat oleh orang lain dari sudut pandang the native, kata Kris.

Sementara itu, masih sedikitnya karya etnografi yang beredar dalam dunia sastra Indonesia saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ketakutan penulis tentang akankan karyanya nanti dapat dimasukkan ke dalam kategori novel etnografis atau tidak, serta bagaimana menggabungkan antara fiksi dan fakta dalam novel etnografi.

“Menulis etnografi seharusnya tidaklah susah. Contohnya ketika saya pergi ke Paris, saya menulis tentang sejumlah sudut di kota tersebut dari pengamatan serta data dari native, maka terciptalah sebuah produk etnografi,” kata Redaktur Sastra Kompas, Putu Fajar Arcana.

Menurut Putu untuk membuat sebuah produk entografi, seorang harus mempunya imajinasi yang tinggi. Hal ini dapat dibantu dengan sering membaca berbagai jenis karya sastra yang ada saat ini. “Imanjinasi adalah kunci seseorang untuk membuat produk etnografi. Membaca karya sastra akan memperkaya imajinasi,” katanya.

menulis (novel) etnografi


Tema “Menulis Novel Etnografi” yang kami angkat sebagai topik obrolan sore Sembari Minum Kopi (SMK), sebenarnya cukup segmented. Tapi ternyata yang datang di SMK kali ini cukup banyak. Dari 50 target peserta, rupanya yang mengisi di buku tamu sudah lebih dari 140 orang. Nggak nyangka deh…

Padahal, Etnografi, konsep yang dikembangkan Antropologi untuk mendeskripsikan masyarakat dan kebudayaannya itu memang masih belum dikenal luas. Sementara itu di kalangan antropolog sendiri terjadi perdebatan yang panjang mengenai karya etnografi itu sendiri. Mereka memperdebatkan apakah karya etnografi itu merupakan fakta atau fiksi. Penganut antropologi positivistik meyakini bahwa karya etnografi itu merupakan fakta, alias beda dengan karya fiksi. Namun para antropolog postmodernis bahwa karya etnografi tak ubahnya sebuah novel, hasil imaginasi seorang antropolog tentang masyarakat yang ditelitinya.

Ah, sudahlah biarkan para antropolog di kampus yang memperdebatkannya. Forum SMK ini sebenarnya nggak punya niat muluk-muluk. Sekedar ngobrol santai saja, nggak usah terlalu serius. Sokur-sokur ada yang terinspirasi. Kalaupun tidak, ya kali lain ngobrol yang lebih fokus lagi.

Meski begitu, perdebatan antara fakta dan fiksi itu sempat pula menyita sebagian waktu dalam forum obrolan SMK. Sehingga obrolan atau sharing tentang proses kreatif dan Putu Fajar ArcanaKris Budiman dalam menulis sastra yang kental dengan warna lokal jadi kurang tergali. Lebih tepatnya, nggak kebagian waktu cukup untuk ngobrolin hal ini, karena sudah keburu maghrib.

Dari porsi waktu yang sedikit itu, ada beberapa catatan yang dapat dikutip untuk mengisnpirasi kita semua dalam penulisan kreatif:

  1. Imaginasi itu penting, kata Kris Budiman. Banyak penulis takut untuk berimajinasi, sehingga tulisannya menjadi kering seperti laporan yang tidak menarik untuk dibaca.
  2. Riset itu wajib. Meskipun imaginatif, tetapi jika tidak disertai dengan studi, karya sastra juga tidak akan menarik.
  3. Baca buku sastra sebanyak-banyaknya, menurut Putu Fajar Arcana merupakan cara termudah untuk mengasah kreatifitas. Sayangnya, tidak semua orang mau membaca sastra.
  4. Baca kamus untuk menemukan diksi juga disarankan Putu. Dengan diksi dan kosa kata yang kaya, tulisan akan lebih enak untuk dibaca.

Masih belum terinspirasi untuk menulis? Hhmm…mungkin kita perlu bikin workshop “Penulisan novel Etnografi” kali ya. Ada yang berminat?