profil duo travel writers

CITRA DYAH PRASTUTI

Saat ini memiliki 13 blog yang tentu saja tidak semuanya diupdate secara teratur. Akhirnya ada gunanya juga punya 13 blog, karena salah satunya sudah menjadi buku ‘Cheers, UK!’ bersama Gagas Media (Agustus 2010).

Dari dulu sampai sekarang belum berubah tempat kerja, a proud radio journalist of KBR68H. Ini adalah singkatan dari Kantor Berita Radio 68H di Utan Kayu, Jakarta.

Ketika 2004 ikut training jurnalis di Swedia, mampir di toko buku, melihat buku tentang menjadi travel writer. Mendadak dapat wangsit dan pingin jadi travel writer. Baru terwujud setahun berikutnya ketika menulis blog pippilottagoinguk.blogspot.com (now closed for public) selama kuliah di London, UK. Dari situ lah baru berasa ada gunanya juga jadi jurnalis radio, kuliah Penulisan Populer di Fakultas Sastra UI, ikutan tabloid kampus Go FISIP Go! dan jadi mahasiswa Jurusan Komunikasi FISIP UI.

2005-2006 adalah masa-masa paling indah karena bisa tinggal di Inggris secara gratis tis tis, dengan modal ‘memperdaya’ Pemerintah Inggris sehingga mau bayarin beasiswa Chevening. Mengambil S2 Critical Media and Cultural S

tudies di SOAS, University of London, yang ada di tengah kota. Tinggal di Paul Robeson House dekat Kings Cross Station, yang nggak kalah ngehits lokasinya di tengah gemerlap London.


MATATITA a.k.a Suluh Pratitasari

Mejadi penulis dan jurnalis adalah mimpi indah yang selalu mengusik sejak mulai m

embaca majalah HAI saat kelas 6 SD. Pemimpin Redaksinya kala itu Arswendo Atmowil

oto yang menulis buku “Mengarang itu Gampang”

(1986) juga membuatnya bermimpi menjadi Pemimpin Redaksi jika besar nanti. Mimpi yang muluk-muluk itu dicobanya perlahan dan penuh keyakinan sejak cerpen pertama yang ditulisnya saat kelas 6 SD dimuat di majalah anak “Ceria” terbitan Semarang.

Masa remajanya lalu diisi dengan menulis cerpen dan artikel popu

lar yang dimuat di majalah HAI, GADIS, ANEKA, dan MODE. Setelah kuliah barulah bergabung di Badan Penerbitan Pers Mahasiswa UGM sebagai redaktur Majalah Balairung. Didukung dengan latar belakang studi di jurusan Antropologi, menjelajah dan menulis merupakan kegiatan yang lekat dengan kesehariannya.

Pengalaman kerja sebagai Humas Dagadu Djokdja (1996 – 2001) membuatnya memiliki keberanian merintis UKM (Usaha Kecil Menegangkan!) di bidang kreatif (merchandise, graphic design, media & publishing) sejak Maret 2001. Namun, mimpi menjadi penulis dan jurnalis itu tak pernah padam, bahkan menemukan ruang yang makin leluasa untuk diekspresikan setelah merintis usaha sendiri. Berbagai proyek yang memungkinkannya menjelajah dan menulis diburunya. Beruntung sejumlah media internal dan PR dari perusahaan nasional mempercayakan perusahaannya untuk menggarap mulai dari reportase, editorial, lay out, hingga produksi. Nah lo, berasa jadi Pemimpin Redaksi sekaligus Pemimpin Perusahaan beneran kan?

Saat ini lebih menikmati menjadi penulis dan ‘Pemimpin Redaksi’ untuk sejumlah blog yang ditulisnya.



Advertisements

novel etnografi sebagai kritik budaya

Oleh: Joko Widiyarso – GudegNet

Obrolan Sembari Minum Kopi - Menulis Novel EtnografiNovel etnografi adalah tulisan yang dibuat oleh seorang penulis yang menuliskan tentang “hal lain” yang baik secara goegrafis maupun antropologis berada di luar wilayah si penulis. Jika si penulis juga merupakan orang asli dari wilayah yang ditulis, tulisannya hanya akan menghasilkan warna lokal saja, dan bukan sebuah produk etnografi.

“Mengutip dari Marcus & Fischer, etnografi merupakan tulisan seseorang mengenai the other. Hal ini berarti si penulis bukan salah satu anggota masyarakat dari daerah yang ditulisnya. Jika si penulis adalah native dari daerah tersebut, produk yang dihasilkan hanyalah sebuah warna lokal, bukan produk etnografi,” kata sastrawan sekaligus antropolog, Kris Budiman dalam acara Sembari Minum Kopi di Kopi Kopi Sagan, Yogyakarta (10/05).

Karena tulisan etnograf berdasar pada sudut pandang the native yang dibuat oleh orang lain, maka novel etnografi bisa menjadi sebuah kritik budaya yang efektif bagi kebudayaan sendiri.

“Novel etnografi itu bisa menjadi sebuah kritik budaya yang efektif bagi kebudayaan sendiri. Kerena etnografi ini dibuat oleh orang lain dari sudut pandang the native, kata Kris.

Sementara itu, masih sedikitnya karya etnografi yang beredar dalam dunia sastra Indonesia saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ketakutan penulis tentang akankan karyanya nanti dapat dimasukkan ke dalam kategori novel etnografis atau tidak, serta bagaimana menggabungkan antara fiksi dan fakta dalam novel etnografi.

“Menulis etnografi seharusnya tidaklah susah. Contohnya ketika saya pergi ke Paris, saya menulis tentang sejumlah sudut di kota tersebut dari pengamatan serta data dari native, maka terciptalah sebuah produk etnografi,” kata Redaktur Sastra Kompas, Putu Fajar Arcana.

Menurut Putu untuk membuat sebuah produk entografi, seorang harus mempunya imajinasi yang tinggi. Hal ini dapat dibantu dengan sering membaca berbagai jenis karya sastra yang ada saat ini. “Imanjinasi adalah kunci seseorang untuk membuat produk etnografi. Membaca karya sastra akan memperkaya imajinasi,” katanya.

menulis (novel) etnografi


Tema “Menulis Novel Etnografi” yang kami angkat sebagai topik obrolan sore Sembari Minum Kopi (SMK), sebenarnya cukup segmented. Tapi ternyata yang datang di SMK kali ini cukup banyak. Dari 50 target peserta, rupanya yang mengisi di buku tamu sudah lebih dari 140 orang. Nggak nyangka deh…

Padahal, Etnografi, konsep yang dikembangkan Antropologi untuk mendeskripsikan masyarakat dan kebudayaannya itu memang masih belum dikenal luas. Sementara itu di kalangan antropolog sendiri terjadi perdebatan yang panjang mengenai karya etnografi itu sendiri. Mereka memperdebatkan apakah karya etnografi itu merupakan fakta atau fiksi. Penganut antropologi positivistik meyakini bahwa karya etnografi itu merupakan fakta, alias beda dengan karya fiksi. Namun para antropolog postmodernis bahwa karya etnografi tak ubahnya sebuah novel, hasil imaginasi seorang antropolog tentang masyarakat yang ditelitinya.

Ah, sudahlah biarkan para antropolog di kampus yang memperdebatkannya. Forum SMK ini sebenarnya nggak punya niat muluk-muluk. Sekedar ngobrol santai saja, nggak usah terlalu serius. Sokur-sokur ada yang terinspirasi. Kalaupun tidak, ya kali lain ngobrol yang lebih fokus lagi.

Meski begitu, perdebatan antara fakta dan fiksi itu sempat pula menyita sebagian waktu dalam forum obrolan SMK. Sehingga obrolan atau sharing tentang proses kreatif dan Putu Fajar ArcanaKris Budiman dalam menulis sastra yang kental dengan warna lokal jadi kurang tergali. Lebih tepatnya, nggak kebagian waktu cukup untuk ngobrolin hal ini, karena sudah keburu maghrib.

Dari porsi waktu yang sedikit itu, ada beberapa catatan yang dapat dikutip untuk mengisnpirasi kita semua dalam penulisan kreatif:

  1. Imaginasi itu penting, kata Kris Budiman. Banyak penulis takut untuk berimajinasi, sehingga tulisannya menjadi kering seperti laporan yang tidak menarik untuk dibaca.
  2. Riset itu wajib. Meskipun imaginatif, tetapi jika tidak disertai dengan studi, karya sastra juga tidak akan menarik.
  3. Baca buku sastra sebanyak-banyaknya, menurut Putu Fajar Arcana merupakan cara termudah untuk mengasah kreatifitas. Sayangnya, tidak semua orang mau membaca sastra.
  4. Baca kamus untuk menemukan diksi juga disarankan Putu. Dengan diksi dan kosa kata yang kaya, tulisan akan lebih enak untuk dibaca.

Masih belum terinspirasi untuk menulis? Hhmm…mungkin kita perlu bikin workshop “Penulisan novel Etnografi” kali ya. Ada yang berminat?

mari belajar menulis novel etnografi

Sudah membaca Para Priyayi? Novel karya Umar Kayam ini berkisah tentang Sastrodarsono, anak petani di desa Wanagalih (baca: Ngawi), yang naik kasta dari wong cilik menjadi priyayi. Berkat dukungan Asisten Wedana Ndoro Seten, Sastrodarsono bisa menyelesaikan sekolah hingga menjadi seorang guru desa, masuk dalam jajaran Priyayi Pangreh Praja. Sastrodarsono pun membangun dinasti kepriyayian melalui keturunannya, dari generasi pertama, yaitu anak-anak kandungnya (Noegroho, Hardojo, dan Soemini), serta beberapa anak angkat yang ia besarkan, kemudian generasi kedua yaitu Tommi, Mary, Harimurti, Sumi, dan Lantip (cucu angkat Sastrodarsono). Jalan ceritanya berlatar kebudayaan Jawa pada masa penjajahan Belanda dengan pemerintahan “gupermen”-nya, masa pendudukan Jepang, masa kemerdekaan atau Indonesia muda, hingga masa pergolakan ‘65.

Melalui Para Priyayi yang dilanjutkan dengan novel ke-2, Jalan Menikung, Umar Kayam bukan hanya menulis novel (fiksi), namun juga menulis etnografi Jawa, yaitu deskripsi tentang kebudayaan Jawa dan relasi sosial yang terbangun di dalamnya. Sudah sewajarnya jika Para Priyayi menjadi salah satu bacaan wajib bagi mereka yang ingin mempelajari kebudayaan Jawa.

Selain Umar Kayam, sastrawan lain yang sering mengangkat tema kebudayaan lokal dalam karya sastranya antara lain Ahmad Tohari dan Kuntowijoyo tentang kebudayaan Jawa, Korrie Layun Rampan (kebudayaan Dayak Benuaq), Oka Rusmini dan Putu Fajar Arcana (kebudayaan Bali), Dewi Linggasari dan Ani Sekarningsih (kehidupan suku-suku di Papua), dan masih banyak yang lain.

Inilah yang kami maksud dengan Novel Etnografi, yaitu karya fiksi yang mampu mendeskrispikan kehidupan sosial budaya masyarakat tertentu. Etnografi merupakan istilah dalam Antropologi untuk menunjuk pada laporan penelitian (field work) tentang suatu masyarakat dan kebudayaan yang ditelitinya. Karena penelitian antropologis untuk menghasilkan karya etnografi ini juga sangat khas, kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk menyebut metode penelitian antropologi atau metode etnografi.

Bagaimanakah proses kreatif para penulis fiksi kultur lokal ini? TIMKREATIFREGOL menghadirkan obrolaan sore Sembari Minum Kopi dengan tema “Menulis Novel Etnografi” dengan narasumber Putu Fajar Arcana, redaktur KOMPAS yang telah beberapa kali menjuarai lomba penulisan cerpen dan puisi. Salah satu buku kumpulan cerpennya “Bunga Jepun” menghadirkan beberapa cerpen yang berlatar adat Bali dan dinamika budaya masyarakat Bali. Sastrawan lain yang akan memberi pemahaman tentang karya etnografi yang dikembangkan ilmu antropologi adalah Kris Budiman. Penerima Penghargaan Sastra Indonesia – Yogyakarta 2007 atas novel “Lumbini” ini juga bergelar Magister Humaniora ilmu Antropologi. Untuk mengendalikan alur obrolan agar lebih fokus, kami memilih Aant Subhansyah sarjana antropologi yang juga penikmat sastra untuk menjadi moderator.

So, luangkan sabtu soremu untuk bergabung dalam obrolan seru kami. Jangan lupa, SABTU SORE, 10 Mei 2008 mulai pukul 15.00 – 18.00 WIB bertempat di KOPI-KOPI, Jl. Kartini – Sagan (sebelah Barat Asrama Aceh) Yogyakarta. Terbuka untuk umum dan GRATIS. Tersedia 50 suvenir cantik untuk peserta pertama.

Obrolan Sore Sembari Minum Kopi ini terselenggara berkat kerjasama antara TIMKREATIFREGOL dengan Yayasan Umar Kayam, Penerbit KANISIUS, IMPULSE, KOPI-KOPI, GUDEG.NET, dan RADIO ELTIRA. Untuk informasi lebih lanjut, silakan melongok situs kami di www.sembariminumkopi.com atau SMS 0818 0438 1000.

Salam dari Langenarjan,

Suluh Pratitasari – TIMKREATIFREGOL

——
SEMBARI MINUM KOPI merupakan forum obrolan santai yang digagas TIM KREATIF REGOL sejak bulan September 2007. Melalui forum yang berawal dari keyakinan bahwa Gagasan Besar Berawal dari Obrolan, kami berupaya mengangkat tema obrolan yang mampu merangsang kreativitas sehingga dapat mendorong peserta untuk melahirkan sebuah karya.

—–
TIMKREATIFREGOL adalah sekumpulan anak muda yang berkarya di bawah bendera PT. Sendang Kapit Pancuran, perusahaan yang bergerak di bidang media dan kreatif (www.regolmedia.com). PT. SKP juga menerbitkan buletin REGOLjogja dan pemegang lisensi Memorabilia Laskar Pelangi

undangan: berbagi cerita meraih beasiswa

Meraih Mimpi Masa Depan: Beasiswa!

(“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” –Arai)


Di saat biaya pendidikan tinggi di negeri ini terasa kian mahal, berburu beasiswa merupakan pilihan terbaik. Kesempatan memenagkan beasiswa sebenarnya terbuka lebar. Siapapun Anda, yang berusia di bawah 40 tahun, sebenarnya berpeluang untuk memenangkan beasiswa ke luar negeri. Hanya saja, minimnya informasi membuat kesempatan ini seolah hanya dimiliki oleh mereka yang berkecimpung di dunia akademik.

Saat ini informasi beasiswa ke luar negeri sudah dapat dengan mudah diakses melalui internet, baik berupa website maupun milis seperti Milis Beasiswa (http://groups.yahoo.com/group/beasiswa) atau http://milisbeasiswa.com, http://beasiswa.blogspot.com, http://scholarship-info.org, dan lain sebagainya. Persoalannya adalah, bagaimana mempersiapkan diri agar dapat bersaing dan mememangkan beasiswa tersebut?More...

REGOLjogja bekerjasama dengan Penerbit BENTANG dan toko buku-café MP Bookpoint menggelar forum obrolan “Sembari Minum Kopi” yang akan mengulas tentang perjuangan meraih mimpi memenangkan beasiswa ke luar negeri. Obrolan santai ini akan menghadirkan narasumber utama ANDREA HIRATA, penulis tetralogi Laskar Pelangi yang mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk studi Master of Science di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Ia berhasil lulus dengan predikat graduate with distinction atau cum laude dan tesisnya sudah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia sebagai buku Teori Ekonomi Telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia.

Perjuangan Andrea meraih beasiswa dan bagaimana ia menghadapi gegar budaya tinggal di negeri orang dikisahkan secara menarik dalam “Edensor”, novel ketiganya. “Edensor” adalah salah satu dari banyak mimpi yang berhasil diwujudkan Andrea. Novel yang sangat inspiratif ini bisa menggugah semangat Anda untuk bermimpi meraih pendidikan tinggi di luar negeri.

Agar mimpi itu segera terwujud, perlu juga menyimak kiat memanangkan beasiswa ke luar negeri yang akan disampaikan oleh PANGESTI WIEDARTI, Ph.D, moderator milis beasiswa.com. Staf pengajar di Fakultas Bahasa & Seni Univ. Negeri Yogyakarta ini menempuh pendidikan Master di Macquarie University, NSW, Australia dan Ph.D di The University of Sydney, Australia. Peraih Satya Lencana Karya Satya dari Presiden R.I pada tahun 2003 ini juga aktif memotivasi studi lanjut ke berbagai universitas, baik di dalam maupun di luar negeri. “Jika orang muda Indonesia mau berusaha, kesempatan menempuh studi pascasarjana dengan beasiswa amatlah banyak,” ujarnya memotivasi.

Nah, tunggu apalagi. Obrolan santai yang inspiratif ini sangat sayang untuk dilewatkan. Ingat, jika usia Anda di bawah 40 tahun, Anda berpeluang untuk memenangkan biasiswa dan meraih pendidikan tinggi di luar negeri! So, don’t miss it! Bergabunglah bersama dalam forum obrolan kami, Minggu malam 11 November 2007, mulai pukul 18.30 – 21.00 WIB bertempat di MP. Bookpoint, Jl. Kaliurang km 6,8 Kentungan – Yogyakarta. GRATIS, tidak dipungut bayaran. Tersedia suvenir untuk 100 pengunjung pertama.

Untuk informasi lanjut hubungi REGOL www.regoljogja.com (0274.374006 – 0811258438), Penerbit BENTANG www.klub-sastra-bentang.blogspot.com (0274.517373), dan toko buku-café MP Bookpoint (0274.885485).


gudeg.net meliput obrolan sembari minum kopi

Berita Terkini

Andrea Hirata, Fatimah Zahra, dan Ngobrol tentang Jalan-jalan

Iwan Pribadi – GudegNet

sembari_minum_kopiApabila ingin menulis mengenai perjalanan di suatu tempat, sebaiknya tulisan itu harus ada “jiwa”-nya, jadi tidak sekedar berisi kekaguman dan menceritakan keindahan di tempat tersebut yang sudah cukup umum dibahas dan dipaparkan di banyak buku dan media.

Untuk itu, maka diperlukan pendekatan yang berbeda, antara lain dengan melihat dari sisi sosiologis tempat tersebut, kebiasaan-kebiasaan yang ada di kota tersebut, sejarah kota, dan kehidupan budaya setempat. Dengan demikian tulisan mengenai perjalanan tersebut dapat lebih dinikmati oleh para pembacanya.

Demikian kurang lebih yang disampaikan oleh Andrea Hirata dalam acara “Sembari Minum Kopi: Menuliskan Kisah Perjalanan” yang diadakan oleh Regol Jogja pada Sabtu malam (01/09) kemarin.

Selain Andrea, pada kesempatan itu tampil pula Fatimah Zahra yang ikut pula membagikan pengalamannya serta memberikan tips-tips seputar ber-backpacking di luar negeri. Juga memberikan beberapa alamat situs internet yang memberikan peluang dan jalan bagi siapapun yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri namun memiliki keterbatasan finansial.More...

Dalam kesempatan ini, Fatimah Zahra memberikan pula motivasi kepada para yang hadir sehingga apabila memiliki niat dan keinginan untuk melakukan perjalanan, berusahalah dan capai dengan jalan apapun. Niscaya jalan tersebut dapat dicapai dengan niat dan usaha yang keras.

Sebagai moderator acara malam itu, Suluh Pratitasari, juga memberikan pengertian bahwa sesungguhnya traveling bukan merupakan suatu kegiatan yang buang-buang uang. Sebab dengan mengambil dirinya sendiri sebagai contoh, ia mengungkapkan bahwa perusahaan tempat di mana ia berada bisa hidup dan beroperasi dengan baik dikarenakan oleh aktifitas jalan-jalannya sebagai salah satu faktornya.More...

andrea_fatimah_titaAcara yang dimulai sekitar pukul 19:00 WIB di Banaran Cafe, Kampus LPP Lantai Dasar, Jl. Urip Sumoharjo 100 – Yogyakarta itu dihadiri sekitar 150 orang peserta, yang nampak sangat antusias mengikuti kegiatan talkshow ini, hal tersebut dapat dilihat dengan banyaknya peserta yang ingin mengajukan pertanyaan kepada para pembicara ketika sesi tanya jawab diadakan.

Itu masih ditambah lagi dengan berbondong-bondongnya para peserta talkshow “menyerbu” kedua pembicara, baik untuk foto bersama, minta tanda tangan, mengajukan beberapa pertanyaan, beberapa saat ketika acara talkshow itu diakhiri sekitar pukul 21:00 WIB.

“Acara ini cukup menarik, unik, dan bisa dikatakan merupakan yang pertama di Jogja.” Ungkap Monik (22 tahun), salah satu peserta talkshow tersebut.

“Talkshow kali ini terasa lebih ringan, santai, tidak seberat talkshow-talkshow lainnya yang pernah ada di Jogja. Selain itu, tema mengenai “Menuliskan Perjalanan” adalah tema yang belum pernah dibahas dalam talkshow yang pernah ada sebelumnya.”

“Oh iya, selain memberikan wawasan baru menganai penulisan dan perjalanan, talkshow kali ini selain gratis, juga menyediakan snack dan minuman secara cuma-cuma. Hal tersebut juga merupakan daya tarik talkshow ini.” Kata Monik mengakhiri percakapan.

Acara yang digelar oleh majalah Regol Jogja ini, direncanakan akan diselenggarakan secara berkala dengan mengangkat tema yang berbeda-beda.

Regol Jogja sendiri merupakan buletin yang didistribusikan secara cuma-cuma atau gratis yang menampilkan bacaan bermutu tentang Jogjakarta, baik tentang kota, sejarah, budaya, maupun dinamika yang terjadi di dalamnya.

Update: 3 September 2007

Undangan: "Menuliskan Kisah Perjalanan" bareng ANDREA HIRATA

sembariminumkopii.jpg

Mari kita mengembalikan ingatan pada 20 tahun lalu, pada petualangan Si Roy, tokoh ciptaan Gola Gong yang diterbitkan sebagai serial Balada si Roy di Majalah HAI. Roy adalah pemuda petualang, dengan ransel di punggungnya, menyusuri kampung-kampung di pelosok Nusantara. Kisah petualangannya menjadi serial yang hebat di Majalah HAI (yang kini sudah tidak menyediakan halaman fiksi lagi).

Kesuksesan Si Roy tak lepas dari kegemaran Gola Gong backpacking ke penjuru negeri. Bahkan, Gola Gong sendiri mengakui bahwa ia terinsiprasi oleh William Somerset Maugham, sastrawan Inggris yang mengatakan bahwa jika ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat-tempat jauh atau merantaulah ke negeri orang, kemudian tulislah berbagai pengalaman yang ditemukan. Dan betul, setelah melakukan perjalanan ke banyak tempat, Gola Gong berhasil melahirkan sosok Si Roy, yang menjadi idola remaja di tahun 1987-an dan kini menjadi legenda.

Travelling atau backpacking merupakan kegiatan rekreatif yang bermanfaat untuk mengasah kemampuan menulis. Pengalaman selama di perjalanan dan pertemuan dengan berbagai budaya memaksa kita untuk merekamnya dalam gambar maupun catatan. Sayangnya tidak setiap traveller/backpacker mampu merefleksikan kembali pengalaman-pengalaman itu ke dalam sebuah karya tulis, baik berupa artikel di majalah, blog, penerbitan buku, maupun novel.

Belum banyak backpacker asal Indonesia yang menerbitkan buku atau novel perjalanan. Beberapa di antaranya adalah Agung Basuki (Buku: “Independent Travelling”), Sigit Susanto (Novel: “Menyusuri Lorong-lorong Dunia”), Adhitya Mulya dkk (Novel: “Travelers Tale, Belok Kanan Barcelona”), dan Andrea Hirata (Novel: “Edensor”). Sebagian travellers/backapckers yang lain lebih suka menuliskan kisah perjalanannya ke dalam blog , milis, maupun situs-situs komunitas seperti indobackpacker, jalan-jalan, dan lain sebagainya.

Apapun media yang dipilih, cetak maupun online, memang tak jadi masalah. Tiap-tiap jenis media punya kekuatan yang berbeda untuk menyampaikan informasi. Persoalannya adalah, bagaimana merefleksikan kembali kisah perjalanan menjadi bacaan yang menarik untuk dinikmati para pembaca?

andrea-hirata.gifREGOLjogja menggelar obrolan Sembari Minum Kopi yang memperbincangkan hal ini. Hadir sebagai narasumber utama adalah Andrea Hirata, karyawan PT. Telkom yang kini dikenal sebagai penulis best-seller tetralogi Laskar Pelangi, namun lebih suka mengidentikkan dirinya sebagai akademisi dan bakcpacker. Di forum ini Andrea akan berbagai kisah petualangannnya hingga ke pelosok Afrika yang banyak menginspirasi novelnya ke-3, “Edensor”.

Tentu saja, untuk bisa menikmati perjalanan yang nantinya akan menghasilkan karya tulis menarik (artikel/buku/novel), dibutuhkan sejumlah persiapan teknis: bagaimana baiknya memulai perjalanan, bagaimana membuat rencana anggaran, amankah cewek backpacking sendirian, dan berbagai tips seputar backpacking yang akan disampaikan oleh Fatimah Zahra. Ima, demikian ia dipanggil, kandidat M.Phill dari Leeds University – United Kingdom ini memang gemar travelling. Sebelum mendapat beasiswa kuliah di Inggris, ia sudah keliling Indonesia. Begitu kuliah di Inggris, ia tak melewatkan kesempatan menjelajah Eropa selama 3 minggu, sendiri pula!

backpacking-ima.gifBerminat bergabung dengan obrolan seru kami? Sempatkan bermalam minggu di Jogja pada 1 September 2007 nanti mulai jam 19.05 di Banaran Cafe, Kampus LPP Lt. Dasar, Jl. Urip Sumoharjo 100 – Yogyakarta. GRATIS, tak akan dipungut bayaran. Sebaliknya secangkir kopi dan teh akan menemani peserta obrolan. Oh ya, bahkan kami menyediakan 100 suvenir cantik untuk 100 pengunjung pertama. Belum lagi ditambah doorprize buku dari Andrea Hirata dan Penerbit Bentang serta tak ketinggalan oleh-oleh/suvenir imut yang dibawa Fatima Zahra dari Inggris.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa berkomunikasi via e-mail: regoljogja@yahoo.com atau melongok situsnya di http://regoljogja.com, telpon 0274-374006, boleh juga ke ponsel saya (pratita – 0811258438), dan bila perlu menyinggahi kantor kami di Jl. Langenarjan Kidul 13-A Yogyakarta.