[liputan media] Jalan-Jalan, Menuliskannya, dan Jadi Buku


liputan tembi.org

JALAN-JALAN, MENULISKANNYA, DAN JADI BUKUKegiatan yang mengasyikkan, pergi jalan-jalan lalu mengisahkannya dalam tulisan, lantas ada penerbit yang tertarik menerbitkannya menjadi buku. Itulah yang dialami Matatita –nama pena Suluh Pratitasari– dan Citra Dyah Prastuti. Mereka berdua membagi pengalamannya dalam acara obrolan santai Travel Writing Forum yang diselenggarakan oleh Smartraveler & Sembari Minum Kopi di I Cafe, 29 Maret lalu. Tita sudah menerbitkan 3 buku traveling, yakni Tales from the Road (2009), Eurotrip: Safe & Fun (2010) dan UK Trip: Smart & Fun (2011). Sedangkan Citra telah menelurkan buku Cheers UK! (2010). Acara ini mencoba memberikan alternatif atas buku-buku traveling yang hanya berupa panduan. Membuat tulisan perjalanan, kata Citra, bukan sekadar menulis panduan tapi penting untuk menuliskan kesan-kesan kita. Tulisan bisa pula disertai renungan (reflektif).

Bagaimana ceritanya sehingga ada penerbit yang tertarik menerbitkan tulisan mereka? Padahal keduanya tidak menyerahkan proposal atau naskah penerbitan buku ke penerbit. Mereka memilih untuk “dipinang” penerbit. Alasan mereka tidak “meminang” penerbit karena selain menghabiskan waktu, Tita khawatir jika konsep-konsep dalam proposalnya justru diambil dan JALAN-JALAN, MENULISKANNYA, DAN JADI BUKUdikembangkan sendiri oleh penerbit. Agar “dipinang” kedua penulis ini memiliki kiat yang sama yakni membuat blog. Ternyata banyak penerbit yang rajin berburu tulisan di blog-blog. ”Orang mungkin melihat penerbitan buku saya sebagai ’luck’ tapi sebenarnya ini hasil dari strategi saya,” tandas Tita.

Membuat blog banyak untungnya. Yang pasti biayanya murah. Dengan blog, mereka juga dapat mengukur jumlah pengunjung yang berminat terhadap tulisannya sehingga mengetahui apakah tulisan mereka disukai publik atau tidak. Agar disukai, salah satu kiatnya adalah menulislah yang bermanfaat bagi orang lain. Jadi blog bukan sekadar tempat curahan hati.

Selain itu, menurut Citra, penerbit tidak mengenalnya secara personal. Jadi blog merupakan media pengenalan mereka terhadap penerbit. ”Blog sama dengJALAN-JALAN, MENULISKANNYA, DAN JADI BUKUan CV (riwayat hidup) kita,” kata Citra.

Tidak heran kalau Tita dan Citra mempunyai banyak blog, bahkan blog Citra mencapai 18 buah. Mempunyai banyak blog merupakan bagian dari strategi juga. Setiap blog memiliki tema tersendiri, jadi tidak campur aduk. Fungsinya adalah untuk membranding diri (personal branding). Selain blog, Tita juga membranding diri melalui facebook dimana di statusnya ia hanya berbicara tentang traveling.

Menurut Citra dan Tita, semua orang bisa menulis. Yang penting, mulai saja dulu. Bagi yang belum terbiasa menulis, kiatnya adalah menulis seperti kita sedang bercerita atau mengobrol. Citra sendiri rajin membuat catatan harian, yang ternyata penting karena ketika dia absen menulis 1-2 hari maka kesan dan ingatannya tentang peristiwa atau daerah tertentu sudah menguap.

Mengenai cara mengemasnya nanti akan ditemukan sendiri dalam prosesnya. Menulis adalah bagaimana membuat JALAN-JALAN, MENULISKANNYA, DAN JADI BUKUdiri kita outstanding (istimewa). “Tapi jangan terlalu serius, nanti nggak mulai-mulai,” pesan Citra, yang sehari-harinya adalah wartawan Kantor Berita Radio 68H.

Kiat lain adalah mengusahakan agar tulisan tidak konvensional dan tidak seperti brosur. Bisa dikombinasikan dengan kondisi di negara lain, misalnya soal kondisi perkeretaapian. Tita menambahkan perlunya memperkaya literatur karena akan memperkuat data dan membuat tulisan lebih mempunya angle (sudut pandang) yang kaya. Data juga penting dalam memberikan konteks tulisan sehingga ketika menuliskan hal-hal yang negatif tulisan traveling tidak dinilai sebagai tulisan yang menjelek-jelekkan. Tita sendiri, lulusan jurusan antropologi UGM, tertarik pada sisi-sisi seni, sejarah dan antropologi.

Angle, menurut mereka, harus dipilih dengan cermat. Selain angle, kekhasan tulisan bisa dibentuk oleh gaya dan ekspresi. Meskipun dalam bukunya masing-masing, Citra dan Tita mengomentari daerah atau bangunan yang sama tapi tulisan mereka tetap berbeda. Citra kembali menekankan pentingnya kesan (impresi) sebagai faktor penting dalam tulisan traveling.

Yogya adalah kota wisata yang kaya dengan obyek traveling. Klop bagi yang berminat untuk menulisknya. Ada satu fakta menarik yang dilontarkan Citra dan Tita tentang penulisan traveling, yakni sebagian besar buku traveling di Indonesia ternyata ditulis oleh penulis baru. Nah!

barata

Advertisements

EROPA dalam KATA

liputan Balairung Press

Sabtu (24/7) lalu, dua penulis buku perjalanan berhasil menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung Cafe MOMENTO.Kedua penulis, Matatita dan Andrei Budiman, hadir sebagai narasumber dalam helatan bertajuk “travel writing & sharing info backpacking EROPA”. Acara yang bertujuan berbagi informasi tentangbackpacking dan travel writing ini diselenggarakan oleh forum Sembari Minum Kopi (SMK) dan komunitas Backpacker Dunia (chapter Yogyakarta).

Obrolan sore ini sendiri dibagi menjadi dua sesi: sesi sharing dan sesi travel writing. Sesi sharing dibuka melalui impresi Matatita terhadap peninggalan sejarah dan kebudayaan di Eropa. “Ketika sudah berada disana (Eropa), saya menjadi tersentuh menjaga yang ada disini (Indonesia),” tutur penulis buku TALES from the ROAD itu. Dalam empat puluh lima menit berikutnya, ia berbagi pengalamannya yang juga akan ia tuangkan dalam buku keduanya, “EUROTRIP safe & fun”.

Setelah lima puluh menit Matatita dibiarkan bercerita solo, hadirlah Nancy Margaretha dan Andrei Budiman yang ikut urun rembuk. Nancy Margaretha, Country Ambassador untuk Indonesia dari couchsurfing—komunitas backpacker dunia—berbagi cerita tentang cara mendapatkan akomodasi yang murah. Ia memaparkan kemudahan akomodasi dengan sistem couchsurfing, yang mengandalkan proses bertamu dan menginap di rumah anggota komunitas backpacker sedunia. Sedangkan Andrei Budiman menegaskan bahwa bukan hanya orang pintar yang bisa pergi ke Eropa. “Tidak semua orang yang mendapat beasiswa (ke luar negeri) itu pintar, rasa percaya diri juga diperlukan,” ujarnya.

Pengarang novel Travellous itu menguatkan pernyataannya dengan bercerita tentang pengalaman pertamanya ke Eropa—saat sesi travel writing dimulai. Ia bercerita bahwa ia dapat pergi ke Eropa dengan uang terbatas, meski ia harus rela bermalam di bandara. “Saya bukanlah orang terorganisir secara baik, saya tidak pernah merencanakan perjalanan saya,” ungkap Andrei. Moderator travel writing sore itu, Nicholas Warouw, menganggap hal itu sebagai salah satu unsur kelebihan Andrei dalam hal travel writing. “Spontanitas, itulah yang menjadi kunci Andrei mendapat pengalaman-pengalaman unik dalam perjalanan,” sambung Nicholas.

Sesi travel writing sore itu diakhiri dengan pembagian hadiah untuk para penanya. Di akhir sesi Matatita mengemukakan pendapatnya tentang tujuan acara ini. “Forum ini untuk ngomporin teman-teman agar lebih tertantang melakukan travelling, jangan terlalu berat di pertimbangan,” tegasnya. Andrei juga menambahkan bahwa jangan merasa takut untuk melakukan pengembaraan. “Semakin kalian sering travelling ke luar negeri, kalian akan semakin mencintai negara kalian sendiri,” pungkasnya. [Apé]

traveling is experiencing different cultures


Selasa, 11 Agustus 2009, 23:15 WIB

Indonesia Lemah Dalam Packaging Daya Tarik Wisata

Iwan Pribadi – GudegNet

Dalam hal menjual daya tarik wisata, Indonesia masih memiliki kelemahan dalam hal packaging, sehingga sesungguhnya apa yang dimiliki Indonesia banyak yang jauh lebih menarik apabila, misalnya, dibandingkan dengan Malay Heritage Center di Singapura yang landmark-nya hanya sebuah Rumah Minangkabau saja.

Ini yang mendorong penerbit di Indonesia untuk menerbitkan dan membuat tulisan-tulisan yang masuk ke dalam kategori traveling, yang baru muncul sekitar lima tahun yang lalu. Semuanya itu didasari pemikiran bahwa apabila digarap secara serius, pariwisata di Indonesia sesungguhnya sangat menjanjikan. Demikian diungkapkan oleh Salman Farid kepada GudegNet Sabtu lalu (8/8) di FoodFezt Yogyakarta.

Pria yang menjabat sebagai CEO Bentang Pustaka ini menambahkan, kemudahan yang ada pada saat ini seperti misalnya teknologi blog, juga memiliki peranan dalam semakin mempopulerkan tulisan-tulisan traveling di masyarakat.

Dengan adanya tulisan-tulisan seperti itu, apalagi yang telah berhasil diterbitkan sebagi buku, diharapkan dapat semakin membuka mata masyarakat luas umumnya dan kaum muda khususnya bahwa banyak hal yang dapat diperoleh dan dipetik selama mengadakan perjalanan atau traveling, jadi tidak melulu bersenang-senang belaka.

Pendapat tersebut dibenarkan oleh Matatita, yang belum lama ini meluncurkan buku traveling pertamanya yang berjudul Tales From The Road. Menurutnya, hal yang menariknya selama perjalanan bukanlah pada pemandangan atau landscape suatu lokasi tertentu yang sedang dikunjungi, akan tetapi yang menarik perhatiannya adalah sisi sosial budaya masyarakat di tempat tersebut yang menarik untuk diamati dan dipahami, yang kelak sangat bermanfaat untuk pengayaan wawasan dan pemahaman seseorang atas budayanya sendiri.

Bagi Matatita sendiri, buku yang baru saja diterbitkannya tersebut diharapkan dapat menjadi pemicu bagi siapapun yang memiliki kesempatan dan waktu untuk jalan-jalan nampin tidak pernah dituangkan dalam bentuk tulisan lain, selain dalam bentuk laporan perjalanan kerja saja.

Jadi singkatnya, menurut perempuan yang juga pimpinan Regolmedia ini, traveling baginya adalah bukan melulu melihat pemandangan-pemandangan yang indah, akan tetapi lebih dimaknai sebagai experiencing diferent culture agar dapat menjadi sarana refleksi bagi diri sendiri, yang kemudian dapat menjadi sebuah bahan tulisan agar dapat dibaca dan dapat dijadikan sarana refleksi oleh lebih banyak orang lagi.

foto: dokumen REGOL

liputan GudegNet untuk Travel Writing Weekend Forum

Selasa, 11 Agustus 2009, 23:28 WIB

Menembus Penerbit Buku dengan Menuliskan Kisah Perjalanan

Iwan Pribadi – GudegNet

Menuliskan Kisah PerjalananSebenarnya menembus penerbit buku untuk sehingga dapat menerbitkan karya seseorang, tidak sesukar yang selama ini dibayangkan.

Karena sesungguhnya para penerbit saat ini sedang agresif dalam mencari penulis-penulis untuk diterbitkan karyanya menjadi sebuah buku.

Demikian ungkap Salman Farid ketika mengawali acara Sembari Minum Kopi yang kali ini mengangkat tema Menuliskan Kisah Perjalanan: Kiat Menembus Media dan Penerbit.

Bahkan, CEO Bentang Pustaka ini menambahkan, sejak beberapa tahun belakangan para penerbit juga mencari tulisan-tulisan yang dinilai layak untuk diterbitkan dan marketable di Internet dengan mengunjungi blog-blog yang banyak tersebar di sana.

Beberapa yang tulisan di blog yang berhasil diangkat menjadi tulisan antara lain “The Naked Traveler (Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia)” karya Trinity, dan yang baru saja terbit adalah “Tales From The Road” karya Matatita.

MatatitaMatatita yang juga hadir kesempatan ini turut membagikan tips dan pengalamannya seputar menerbitkan kisah perjalanan yang semula berada di blog menjadi sebuah buku.

Menurutnya, jika ingin lebih mudah ditemukan oleh penerbit, maka sebaiknya membuat blog yang segmented dan membicarakan satu hal saja yang khusus dan spesifik, misalnya tentang perjalanan saja, tentang kuliner saja, dan lain sebagainya.

Khusus untuk menuliskan kisah perjalanan, Matatita memberikan masukan agar jangan terpesona dengan keindahan tempat yang sedang kita datangi, sebab jika itu terjadi maka akan melahirkan tulisan yang datar, biasa-biasa saja, dan sudah banyak dibahas oleh orang lain yang mengunjungi tempat itu.

Untuk itu akan lebih baik jika tulisan perjalanan tersebut memerhatikan hal-hal yang kecil seperti budaya dan keseharian masyarakat di tempat tersebut, dan berusaha dekat dan melebur dengan penduduk setempat dengan cara menghormati budaya mereka. Dengan demikian niscaya akan ditemukan hal-hal yang khas dan menarik yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.

Pada akhirnya, Matatita berpesan bahwa oleh-oleh atau produk yang sebenarnya dari seorang traveler itu adalah berupa foto-foto dan/atau tulisan. Untuk itu ia berpesan kepada siapapun yang memiliki hobi jalan-jalan untuk jangan ragu-ragu untuk menuliskan kisah perjalanannya. Siapa tahu ada penerbit yang melirik dan kemudian tertarik untuk menerbitkan.

liputan Harian JOGJA untuk Menulis Puisi Cinta

Djoko Damono bagikan tips menulis puisi cinta

Sabtu, 21 Februari 2009 12:14:48

JOGJA: Komunitas Regol Jogja mengadakan forum talkshow “Obrolan Sore Sembari Minum Kopi”, sore ini (21/2) pukul 15.00-17.30 WIB, bertempat di Cafe Momento Jl Jembatan Merah (Sebelah Lembaga Indonesia-Amerika), Prayan, Yogyakarta.

Forum Obrolan Sore Sembari Minum Kopi hari ini mengangkat tema “Menulis Puisi Cinta Bersama Sapardi Djoko Damono”. Sembari menikmati secangkir kopi hangat, peserta dapat langsung berdiskusi dengan Sapardi Djoko Damono, seorang pujangga Indonesia terkemuka.

Sapardi Djoko Damono dikenal dari berbagai puisi yang menggunakan kata-kata sederhana namun mudah menyentuh wilayah emosi terdalam bagi pembacanya. “Aku Ingin” merupakan salah satu puisi Sapardi yang banyak dikutip orang untuk mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang.(Rossa)

sumber: HarianJogja.com

woro-woro di Kedaulatan Rakyat

Regol Hadirkan Sapardi Djoko Damono

20/02/2009 08:20:08
TIM Kreatif Regol kembali menggelar obrolan sore ‘Sembari Minum Kopi’ pada Sabtu (21/2) mulai pukul 15.00 di Cafe Momento, Prayan Yogyakarta. Kali ini menghadirkan maestro puisi cinta Sapardi Djoko Damono dengan tema Menulis Puisi Cinta. Prof Dr Sapardi Djoko Damono, merupakan Guru Besar Fak Sastra UI yang lahir di Solo, 20 Maret 1940 ini telah melahirkan sejumlah karya antara lain, DukaMu Abadi, Mata Pisau, Perahu Kertas, Sihir Hujan, Hujan Bulan Juni, Arloji dan lainnya. Lewat karyanya, ia meraih berbagai penghargaan seperti Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia. (M-4)-g

sumber Harian Kedaulatan Rakyat