ngopi bareng di bandung | 15 jan 2012

Advertisements

menulis kisah perjalanan (2)


Sembari Minum Kopi (SMK) kembali menggelar forum obrolan santai antara penulis & pembaca dengan tema Menuliskan Kisah Perjalanan (Travel Writing). Pada forum sebelumnya, kami menghadirkan menghadirkan Andrea Hirata & Imazahra untuk berbagi kisah backpacking yang pernah mereka lakukan di Eropa, forum kali ini lebih dari sekedar sharing para traveller atau backpacker. Kami akan berbagi tips dan kiat penulisan perjalanan agar layak dimuat di media cetak maupun dilirik penerbit.

Travel Writing Forum (TWF) kali ini akan menghadirkan MATATITA, penulis buku travelogue TALES from the ROAD. Matatita akan membagi tips proses kreatif penulisannya dan sejumlah kiat bagaimana menemukan angle atau tema menarik untuk ditulis selagi di jalan (traveling). Narasumber lain yang juga hadir adalah WAHYU HIDAYAT redaktur senior READER’s DIGEST Indonesia dan SALMAN FARIDI (CEO penerbit BENTANG PUSTAKA) yang akan membocorkan ‘rahasia’ dapur redaksi dan kriteria naskah yang layak muat & terbit. Tak hanya itu, mereka juga akan bermurah hati membagikan tips penulisan kepada traveler agar tulisannya bisa diusulkan redaksi untuk diterbitkan.

TWF ini akan diselenggarakan pada hari SABTU, 8 Agustus 2009 di Yogyakarta, jam 15.00 -17.00 WIB. Tempat di FOODFEZT Jl. Kaliurang Km 5.5 (sebelah timur RM Sederhana) Yogyakarta. Seperti biasa, GRATIS dan tersedia GoodyBag dari sponsor dan full doorprize (buku &t-shirt). Seru kan, kalo bulan depan weekends di Jogja?

Oh ya..jika pengin langsung mempraktekkan tips yang diperoleh di TWF ini, boleh kok sekalian gabung di agenda Bike 2 Kotagede (9 Agustus 2009), menjelajah kawasan heritage Kotagede. Info selengkapnya kunjungi silakan klik & donlot poster berikut atau kunjungi situsnya www.wisata.regolmedia.com


kr meliput sembari minum kopi

Liputan Kedaulatan Rakyat utk Sembari Minum Kopi

Obrolan Soal Novel Etnografi

17/05/2008 05:27:44 MENULIS tidak perlu berpikir jenis apakah tulisan itu nantinya, apakah itu jadi novel etnografi atau novel-novel yang lain. Tugas penulis kalau itu kebetulan antropolog melakukan kritik terhadap kebudayaan, sehingga kalau seseorang sudah menetapkan diri menjadi penulis akan menjadi kritis terhadap kebudayaan. Soal apakah itu diterima terserah kepada publik pembacanya.

“Jadi, novel etnografi itu bukan hanya karena menulis tentang suku-suku bangsa,” ujar antropolog Kris Budiman penerima penghargaan Sastra Indonesia, Yogyakarta, 2007 dalam obrolan ‘Sembari Minum Kopi’ yang digelar Tim Kreatif Regol tentang ‘Menulis Novel Etnografi’ di Kopi-Kopi Jl Kartini, Sagan yang juga menghadirkan sastrawan Putu Fajar Arcana, Sabtu (10/5).

Dalam menulis novel etnografi Kris mengatakan, tidak bisa menerima begitu saja fakta yang didapat. Karya etnografi juga tidak harus bercerita mengenai suatu suku bangsa, melainkan le bih mengisahkan kepada kelompok lain. Supaya tulisan tidak kering maka penulis novel etnografi harus kaya dengan imajinasi. “Kalangan mahasiswa sekarang sulit berimajinasi,” ujar Kris. Dijelaskan oleh Managing Director Tim Kreatif Regol, Suluh Pratitasari, novel etnografi karya fiksi mampu mendeskripsikan kehidupan sosial budaya masyarakat tertentu.

Etnografi merupakan istilah dalam antropologi untuk menunjuk pada laporan penelitian tentang suatu masyarakat dan kebudayaan yang ditelitinya. “Penelitian antropologi untuk menghasilkan karya etnografi ini juga sangat khas, kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk menyebut metode penelitian antropologi atau metode etnografi,” ujar Suluh (Asp)-k

Kesusastraan: Etnografi Kritik terhadap Kebudayaan

Liputan KOMPAS untuk Sembari Minum Kopi “Menulis Novel Etnografi” Senin, 12 Mei 2008 | 10:33 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Dengan menuliskan kebudayaan lain, tulisan etnografi diharapkan dapat menjadi kritik terhadap kebudayaan. Untuk itu, diperlukan riset yang mendalam agar tulisan tersebut bisa bersikap kritis. Demikian disampaikan antropolog sekaligus pengajar program studi Pascasarjana Kajian Budaya dan Media Kris Budiman dalam diskusi bertema Menulis Novel Etnografi yang diadakan Komunitas Regol, di Yogyakarta, Sabtu (10/5).

Penulis tidak bisa taken for granted (menerima begitu saja fakta yang diterima) dalam menulis novel etnografi, perlu melakukan riset dan proses familiarisasi, ujar Kris. Kris menuturkan, perlu kemampuan sebagai seorang etnografer dalam menuliskan sebuah karya etnografi. Karya etnografi berbicara mengenai metode dan hasil kerja yang dilakukan seorang antropolog, tuturnya. Dalam menulis novel etnografi, lanjut Kris, pengarang juga perlu menjaga jarak agar tidak terjadi stereotip terhadap obyek yang ditulis. Untuk itu, penulis mesti membebaskan diri dari etnosentrisme atau pandangan yang berpangkal pada kebudayaan sendiri sehingga dapat meremehkan kebudayaan lainnya.

Jika memberikan jarak terlalu jauh terhadap obyek yang ditulis, akan memberikan kesan yang buruk-buruk saja terhadap pembaca. Sedangkan jarak yang terlalu dekat, juga akan memberikan kesan sebaliknya, katanya. Menurut Kris, tulisan etnografi juga tidak mesti harus bercerita mengenai suatu suku bangsa, melainkan lebih mengisahkan kepada kelompok lain (the other). Pandangan bahwa etnografi mengisahkan suatu suku bangsa ini perlu direvisi, tuturnya.

Agar sebuah novel etnografi enak dibaca, Kris menambahkan, perlu imajinasi yang kuat dari sang pengarang. Jangan hanya berkutat dalam pembedaan antara fakta dan fiksi. Yang terpenting, perlu karakterisasi dan kecermatan penyusunan plot sehingga pesan novel tersebut bisa tersampaikan, tuturnya. Sastrawan dan jurnalis Putu Fajar Arcana mengatakan imajinasi sangat penting untuk dimiliki seorang pengarang dalam membuat suatu karya. Tanpa imajinasi, tulisan hanya jadi paparan fakta yang kering, ujarnya. Putu menuturkan, untuk memperkuat daya imajinasinya, seorang penulis memerlukan banyak referensi dengan membaca berbagai karya sastra. Selain itu, Putu juga mengingatkan mengenai pentingnya membaca kamus untuk memperkaya diksi sebuah tulisan. Penulis memerlukan kemampuan dalam menyusun sebuah gramatika bahasa dengan diksi yang penuh imajinasi, ucapnya. (A06)

next forum: menulis novel etnografi

Sembari Minum Kopi akan kembali menggelar obrolan santai yang mengasah kreatifitas kita semua. Kali ini mengangkat tema “Menulis Novel Etnografi” yang akan menghadirkan narasumber Kris Budiman (Sastrawan yang belajar Antropologi) dan Putu Fajar Arcana (redaktur KOMPAS yang sastrawan) Melalui diskusi santai ini para narasumber akan berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang proses kreatif dibalik penulisan sebuah karya sastra terutama novel-novel bertema kultur lokal.

Forum Obrolan Santai ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 10 Mei 2008, mulai pukul 15.00 – 18.00 WIB bertempat di KOPI-KOPI Jl. Kartini, Sagan Yogyakarta. Peserta terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran (GRATIS).

Luangkan waktu untuk obrolan penuh gizi ini ya…dan rajin-rajinlah mengakses blog ini untuk info terbaru perkembangan acara..